Puisi: Susi Empat, Susi Bilangan Karya: Gus tf
Susi Empat, Susi Bilangan

Saat pertama cahaya itu datang, Susi tenggelam dalam membilang. Berapa pagi berapa siang, berapa malam berapa petang. Orang-orang mulai meragai, riuh-rendah di halaman, antah dan beras mereka pisahkan. Ibu naik ke anjung, mulai menari, Susi tumbuh Susi berganti. Kuda- kuda meringkik, kerbau-kerbau melenguh, melapur-lapur ayam di kandang. Susi merintih, kadang mengerang, meracau-racau Susi membilang, “Tarik tiga mengadu tujuh, tarik tujuh mengadu empat. Getar di buluh siapa menaruh, ditaruh tujuh tiga menempat.”

Ah, kata yang empat. Kata dahulu, kata kemudian, kata pusaka, kata mufakat.

Buluh tak tumbuh pada ruas, tunas tak tumbuh pada pokok. Tak batang Susi bersandar, tak dahan Susi bergantung. Bersila Susi pada akar, di serat buluh Susi bernaung. Menari. Mulai menari. Membilang. Terus membilang. Berapa bulan berapa bumi, berapa bintang berapa matahari. Berapa kiri berapa kanan, berapa belakang berapa depan. Kata Ibu, “Tak bertinggi tak berendah, segala terbaring dalam empat. Di atas selesai di bawah sudah, hanya di garis makan pahat.” Susi bergetar, menari terus menari. Susi meracau, membilang terus membilang:

Empat. Pagi siang malam petang. Empat. Kiri kanan depan belakang. Empat.

Bumi bulan matahari bintang. Empat. Air tanah angin api. E-m-p-a-t. Susi bergetar, menari terus menari. Susi meracau, membilang terus membilang. Ingat kalimat Ibu, Bulat menggolong pipih melayang, sendiri bersempit- sempit bersama berlapang-lapang. Ingat dulu saat Oryana datang, Epsilon-theta-delta-alpha, terbaring semua cakra. Dan kini, Susi tahu, saling hubung tak mengikat, saling bentur tak melenyap. Menari, terus menari. Membilang, terus membilang. Umbut Susi runtih Susi, Susi nibung ke seberang. Turut Susi cari Susi, Susi berlindung pada yang terang.

2012
Puisi: Susi Empat, Susi Bilangan
Puisi: Susi Empat, Susi Bilangan
Karya: Gus tf

Baca Juga: Kumpulan Judul Lagu Adinda Shalahita
Loading...

Post A Comment:

0 comments: