Tengah Malam

Tengah malam, jika ia berigau tentang aku
maka putarkanlah lagu itu. Dan telah aku tinggalkan bengkelai
kain agar bisa ia hirup bau tubuhku, agar bisa ia reka semaunya
berapa jengkal panjang lenganku. Aku sisipkan pula di balik
gorden kelabu itu - pandang ke luar kaca jendela - dongeng
tentang rantau, tentang penyeberangan, juga tentang pulang.

Agar kelak ketika hari buruk datang, ia tahu
sebelum kata berangkat diputuskan, telah aku kurung lebih dahulu
segala hantu segala mambang dalam perutku

Di sini, dari satu kedai ke kedai lain aku tempuh
dalam menggumamkan lagu itu. Badanku di sini, cintaku, tapi tidak
dengan tubuhku. Tubuhku tetap adalah riak-riak danau di kaki Merapi itu
adalah pendakian tinggi dan tebing curam di Sitinjau, adalah bau tanah
lembah. Tubuhku tidak akan bisa dipisah dari dingin sungai
dimana pantun demi pantun
terus dialiri jauh.

Tengah malam, jika ia terus berigau tentang aku
dan lagu itu,
dan bengkalai kain itu,
atau dongeng di balik gorden kelabu itu
tidak bisa lagi membuat ia mereka-reka
seberapa jengkal panjang lenganku.

Maka hari baik akan datang.

Jakarta, 2015
Puisi: Tengah Malam
Puisi: Tengah Malam
Karya: Esha Tegar Putra

Baca Juga: Puisi Ziarah Gempa
Loading...

Post A Comment:

0 comments: