Camar Mencari Ceruk Karang

waktu yang digaris gerimis mengingatkanku
ketika tapak kaki bergilir satu-satu menapak jalan setapak
mendadak matahari begerak pelan terbenam di wajahmu
bersama kleneng lonceng yang ditabuh bergantian
mengiringi lumut-lumut liar dibesarkan embun
bertumbuhan menggerogoti batu-batu tepian
”kuiringi perjalananmu bersama dongeng ibu selepas senja” bisikmu lamat-lamat
sebongkah mesiu rindu meledak di pusat jantung: amis keringat bapa,
harum rambutmu, juga suara bocah-bocah main jamuran di pelataran
sebelum mengabur dalam lembar kalender yang berlepasan
dan kita terperangkap cuaca bersama getar kuncup bunga
kenangan purba yang berhamburan dalam warna tanah
selangkah lagi sampai di ujung belawan
angin menuliskan pesan di ranting-ranting: ini tak akhir perjalanan!
mendadak danau di kelopak matamu mengobarkan api
membuka kembali rute-rute perjalanan yang mesti dilalui
meski bumi menjadi murung kehilangan kata-kata
di ujung belawan di awal malam, seekor camar berputar-putar dalam gelap
mencari sisa ceruk karang yang akan ditatahnya jadi sarang terakhir

Ngawi, 2009/2010
Puisi Camar Mencari Ceruk Karang
Puisi: Camar Mencari Ceruk Karang
Karya: Tjahjono Widarmanto

Baca Juga: Blog tentang Gaya Hidup

Post A Comment:

0 comments: