Hai, Katamu (I)

hai, katamu. lalu kita bersalaman. berjabatan erat. genggaman
ketulusan. lalu kita cipta angan-angan. merangkai bulan. merangkai
mimpi. aku ingin terbang. aku ingin terbang...

"hebat, bisa terbang", katamu

lalu kau beri aku replika pesawat. menderu-deru dalam benak kanakku.
aih, jangan cemberut begitu. bolehlah kau ikut. ke ujung dunia. ke awal
atau akhir kata. ke mana kau mau?

"emang di bulan ada coklat?", katamu menggoda

lalu tubuhku menjadi menjadi supermarket: pasta gigi, sabun, wastafel,
sosis, .... aha! kau tertawa. mentertawakan dunia? sekarat dan sakit
jiwa

kita bergenggaman jemari. bergenggaman....


Hai, Katamu (II)

hai, aku ingin sekejap saja memicingkan mata dari mimpi-mimpi manusia.
seperti diledakan dalam kepalaku. deretan gambar dan huruf bergetar
dari tabung-tabung: mampuslah manusia! mampuslah kemanusiaan!

aku menemukan diriku etalase benda-benda. tubuh yang hanya daging.
berdenyut. denyut. ih, mengapa dilempar ideologi ke kamarku?

sudahlah, lupakan saja apa yang kita bicarakan, seperti waktu lalu.
seperti waktu lalu...

kita susun kembali rumah pasir. kita susun lagi...


Hai, Katamu (III)

hai, apa yang bisa disembunyikan oleh manusia. tatap-Nya begitu tajam
mengiris-iris. apa yang bisa dirahasia manusia? tiada! karena gerak
tetap terlihat. karena tindak akan tercatat. karena....

kebusukan akan terbaui juga akhirnya. pada jalan sebentang. pada
jembatan timbangan. pada layar...

neraca! usia sia-sia! defisit! merugi semata!

Puisi Hai, Katamu
Puisi: Hai, Katamu
Karya: Nanang Suryadi

Baca Juga: Kumpulan Puisi Kemerdekaan

Post A Comment:

0 comments: