Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Ketika Seruling Ditiup Tanpa Nada

Ketika Seruling Ditiup Tanpa Nada

ketika seruling ditiup tanpa nada
adakah kau kembali teringat tahun
demi tahun bergegas ke utara, begitu saja.

apakah yang masih sempat didongengkan
selain tentang wajah sendiri, atau debu
yang selalu menempel pada ujung jari

tahun-tahun ini adalah mangkuk
yang separuh isinya telah terlanjur tumpah

adakah air yang masih tersisa untuk kembali kau teteskan?

ketika seruling ditiup tanpa nada
adakah kau kembali teringat tahun
demi tahun bergegas ke utara, begitu saja.
sedang mata kita telah terlampau lamur
merajut helai demi helai impian
tentang esok hari yang terlanjur tunduk
pada kehendak musim.

tak ada pilihan; selain menatap potret usang
dengan senyum yang tak lagi bisa dicari
selain pada mata kanak-kanak
maka:
biarkan guratan-guratan itu meronai halaman demi halaman!

ketika seruling ditiup tanpa nada,
kita masih akan sibuk berlarian mengejar
nyala kunang yang menyusup entah di belukar mana.

Puisi Ketika Seruling Ditiup Tanpa Nada
Puisi: Ketika Seruling Ditiup Tanpa Nada
Karya: Tjahjono Widarmanto

Baca Juga: Puisi tentang Bulan Agustus

Artikel Menarik Lainnya:

0 Comments:

Posting Komentar

close