Rumah

Kutampung burung hantu itu, seperti anak malang
yang pulang dari rantau. Ia piawai menggubah
lagu merdu, pelipur luka kayu dan tanah
yang kini menjadi bagian badanku.

Kayu dan tanah – remah yang telah dibakar
jadi batu bata itu – adalah penyangga hidupku.

Dari mereka aku tahu tentang hutan,
tentang petapa, dewa dan sedikit rahasia.

Dari mereka pula aku mendengar kisah
tentang kesucian perawan,
yaitu pacar si burung hantu itu
yang kini kerap gentayangan
mengitari tubuhku.

Tidak. Tidak. Perempuan itu
tidak gentayangan.

Dengan daster melati ia memberi
wangi seliat langit sepi.

Tidak. Tidak. Perempuan itu
tidak gentayangan dan menyeramkan,
apalagi jahat, seperti dongeng
yang dikarang-karang tetangga sekitarku.

Benar kata penghuniku, perempuan itu
memang menyimpan bau wangi dan busuk.

Ia merebakkan melati bau liar
pada orang yang tak menyerah pada lapar.

Tapi ia juga menebar bau busuk,
lebih busuk ketimbang bangkai munyuk
bagi orang yang suka pura-pura suci.

Rupa-rupanya penghuniku yang sepuh itu
orang baik dan bijak. Seperti anak angkatku
– si burung hantu itu – ia begitu rendah hati
dan tak suka bersaing dengan matahari.

Ia memang tak suka keluar rumah siang-siang
apalagi mengumbar cerita kacau
dan menjual khutbah yang tak perlu.

Tapi mengapa penghuniku
malah dituduh sebagai dukun gendam
hanya karena ia suka berdiam menderas diri
dan menghuni aku yang, kata mereka,
berbentuk muram. Tak sama
dengan bentuk tetanggaku yang
berwujud gendong angkuh dan seragam.

Beruntung Tuhan pengasih-penyayang
mengirim burung hantu
yang telah kuanggap anakku.

Puji Tuhan yang mengutus
perempuan bolong itu,
yang tawanya begitu jujur melipur
malam dan sepiku.

2014
Puisi: Rumah
Puisi: Rumah
Karya: A. Muttaqin

Baca Juga: Puisi Negeri Teka-teki
Loading...

Post A Comment:

0 comments: