Samadi

(air)
ritus yang membawa gigil dalam darah
serombongan ikan berenang dalam bejana tubuh rapuh
sisiknya berwarna tembaga susuri urat-urat uzur
melepuh di akar rambut yang memucat

: segala air mengalir di satu muara yang sama!

biarkan tubuh basah. kuyup seperti bocah berlarian di gelombang hujan
“dinginnya bunda, menuju gigil. dinginnya bunda, biar hanyutkan segala belatung”

(api)
bahan untuk terkutuk itu tersisa juga dalam tubuh
hanguskan mawar-mawar pengantin kembali jadi abu
nafas udara yang lamat-lamat membara sepanjang waktu
bisa berkobar nyala. membakar apa saja
: juga usia yang sia-sia

(tanah)
inilah tempak moksamu. liang tempatmu abadi
digerus belatung lapar membedah muntahkan jeroan perutmu
tempat berhala kurcacimu tumbuh dewasa melepuh jadi raksasa

inilah warna abadimu
gelap sempurna. ceruk tanpa pelita
tempatmu saksikan tubuh melengkuh
melepuh. muncrat jadi abu

(udara)
ruang kosong tanpa sudut
tubuhmu melayang
ngambang seperti planton
serupa doa tak sampai
hanya sampai sebatas lurung.

Puisi Samadi
Puisi: Samadi
Karya: Tjahjono Widarmanto

Baca Juga: Singkong untuk Asam Lambung

Post A Comment:

0 comments: