Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Suruttutur (Karya Ayatrohaedi)

Suruttutur

Selamat tinggal, duhai, setiap kenangan!
Keharuan, kemanisan masa kanak
adalah mimpi yang tak bisa dilupakan

Adalah pagi-pagi, punggung kerbau
selalu jadi tunggangan. Musim bersawah
kesibukan kampung di sana tertumpah.
Menggema lagu gembala, lagu setiap gembala:

Darah yang turun-temurun
tetes bunda penuai padi
keringat bapa pembajak
lewat nini lewat aki
lewat jantung yang berdetak
semenjak kampung terhuni.

Angkatan demi angkatan
dan jauh sebelum itu.

Kerbauku sayang, kambing tercinta,
rumput terhampar di bumi ini
kalian cuma yang punya.

Selamat tinggal, duhai, setiap kenangan!
Keharuan, kemanisan masa kanak
adalah mimpi yang selalu dimimpikan

Adalah ketika senja, kereta tebu
selalu jadi incaran. Musim memotong
setiap anak pun berkumpul di sana.
Menggema lagu gembala, lagu setiap gembala:

Cinta yang turun-temurun
cinta bersemi di hati
cinta ladang dan tanaman
lewat bunda cinta padi
lewat bapa cinta tanah
tak pernah menjadi kering.

Angkatan demi angkatan
dan jauh sebelum itu.

Tanahku sayang, ladang tercinta
keringat ngucur di badan
adalah cuma untukmu.

Selamat tinggal, duhai, setiap kenangan!
Perpisahan antara kita adalah mimpi
yang tak pernah kumimpikan

1964
Puisi: Suruttutur
Puisi: Suruttutur
Karya: Ayatrohaedi
Buku: Pabila dan Di mana (1977)

Baca Juga: Puisi Anak Terbaik Indonesia

Artikel Menarik Lainnya:

0 Comments:

Posting Komentar

close