Mengapa

Mengapa kita merasa kurang puas terhadap semua
yang terjadi di hadapan kita, apa kita telah lupa
dan terlena oleh buaian atau hanya termakan
oleh kesesatan sementara yang kalau kita mau
menyadari itu hanyalah pikiran semu belaka,
janganlah timbul perasaan yang sebenarnya
tidak perlu kita ikuti karena dapat saja
menjadi suatu kesalahan yang sangat fatal.

Di atas bumi dan langit, dan seluruh isinya,
luar dan dalam, dan tak terbaca tanda-tandanya,
hanyalah milik Allah! Rahasianya milik Allah!
Jangan angkuh manusia! Jangan angkuh kita
semua! Berserah diri! Itulah sesungguhnya kodrat kita!
Untuk memerangi kegelapan dan mengusir yang ruwet
dalam batin kita! Untuk menyalakan cahaya!
Cahaya dari semua cahaya di alam semesta.

Benih bisa tumbuh, bayi menjadi dewasa,
Yang lahir dan mati, daun kering berguguran,
buah membusuk dan pohon-pohon raksasa bisa
kering meranggas tegak di atas bumi, inilah gejala!
Bacalah! Bacalah! Kebesaran Tuhanmu
yang telah menguraikan kebesaran-Nya!
Sejak zaman purba, sejak zaman sebelum ini
semua hadir di mana-mana makhluk Allah telah bertasbih
kepada Sang Pencipta. Maha Pencipta!

Jakarta, 1992-1993
Puisi: Mengapa
Puisi: Mengapa
Karya: Slamet Sukirnanto
    Catatan:
    • Slamet Sukirnanto lahir di Solo pada tanggal 3 Maret 1941.
    • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
    • Slamet Sukirnanto adalah salah satu sastrawan angkatan 1966

    Baca Juga: Puisi Terbaik Wiji Thukul

    Post A Comment:

    0 comments: