Nyanyian Para Babu

Inilah nyanyian kami, suara hati kami
terjemahan kehidupan kami dalam bahasa esai puisi
kami ucapkan lewat penyair ini

Kami adalah sisa-sisa penghabisan dari zaman perbudakan
perkembangan kemudian dari budak belian
yang terdampar di abad ini dan dilupakan

Kami babu. Berjuta kami terberai di benua demi benua
dan samar-samar kami pun mendengar suara purba
yang berkata: “Tuhan bekerja. Dan segala yang ada
dilahirkan dari kegirangan raya. Kegirangan hidup, kegirangan kerja’*)
Maka kami pun bekerja, di mana juga kami berada
Kami bekerja. Tidak melacurkan diri dan tidak meminta-minta

Namun kamilah yang di abad ini bekerja tanpa lindungan
kami terluput dari naungan undang-undang perburuhan:
kami bekerja tanpa jam kerja yang ditetapkan

Kami bisa dipakai kapan saja
dan buat apa saja:
kami serbaguna

Kami benda di mata tuan dan nyonya:
keranjang-keranjang sampah lemparan segala perintah
tungku-tungku hitam tak pernah padam
kami hangus dibakar kerja siang dan malam

Kami babu. Di mana lampu lima watt bersinar tak terang
di sanalah bilik kami. Sebuah bilik di ujung belakang
dari rumah nyonya dan tuan. Sebuah bilik dengan satu ranjang
satu bantal. Sebuah bilik yang terbuka, begitu papa dan telanjang

Di sanalah kami tidur buat sepertiga malam
di sanalah kami kubur dalam tidur yang dalam
segala kepedihan kami yang tak pernah diakui
segala kerinduan kami yang tak pernah dimengerti

Dalam hidup kami tak satu pun kami punya
dalam hidup kami segalanya milik tuan dan nyonya
Mereka pun bisa masuki hidup kami hingga ke sudut-sudutnya
dan seperti bilik kami hidup kami telanjang terbuka

Bila malam di luar pagar datang bujang yang kami cinta
kami tak bisa bermesraan sedikit lama
karena kapan saja waktu dan tenaga kami bisa dipakai tuan dan nyonya
Dan demikian kami pun tak punya hak buat bercinta

Bila tuan dan nyonya dan selingkung keluarga dalam gembira
kami mesti pula tersenyum gembira
karena senyum gembira kami adalah buat tuan dan nyonya

Bila mereka lagi berkabung dalam duka
kami mesti pula melinangkan air mata
karena air mata kami adalah buat tuan dan nyonya

Maka habislah segala
dalam hidup kami. Tak satu pun tersisa:
waktu kami, tenaga kami
bahkan senyum dan air mata kami

Namun hari demi hari kami masih senantiasa setia bekerja
hari demi hari kami masih menanti dengan setia
pada keturunan kami yang ke berapa, akan datangnya suatu masa
di mana kerja adalah kegirangan dalam kehidupan raya
semacam girang yang mengalun dalam semesta
girang angin yang mengayun bunga-bunga
girang kembang yang memberikan wanginya
dan bukan paksa dan terima antara kita
dan bukan derita tak putus-putusnya
di mana air mata pun tak ada harga meratapinya




*) Somewhere dalam Sadhana, R. Tagore
Puisi: Nyanyian Para Babu
Puisi: Nyanyian Para Babu
Karya: Hartojo Andangdjaja
    Catatan:
    • Edjaan Tempo Doeloe: Hartojo Andangdjaja.
    • Ejaan yang Disempurnakan: Hartoyo Andangjaya.
    • Hartojo Andangdjaja lahir di Solo, Jawa Tengah, 4 Juli 1930.
    • Hartojo Andangdjaja meninggal dunia di Solo, Jawa Tengah, 30 Agustus 1990 (pada umur 60 tahun).
    Baca Juga: Puisi karya Aoh K. Hadimadja

    Post A Comment:

    0 comments: