Puisi: April (Karya Kirdjomuljo)

April
kenangan buat Lorca

Secepat kedatangan bulan April
cintaku kembali dalam diri
membersit, sewarna hijau alam
melingkar, sebulat bulan sabit

Langkahku memberat mencintakan bumi
girang melonjak mengatasi hati
berpecahan di atas kota, di atas desa
pada hati dan hati, pada wajah dan wajah

Tiada terasa dan tiada bermaksud
aku menjerit sejauh angin menderai
Lorca, kuingat padamu
hijau alammu sehijau alamku

Sampai terasa, kurela mati muda
sekalipun pernah berjanji
ingin mati dalam satu di antara arti

Kutemui diri sepanjang jalan kota
kutemui cinta sepanjang jalanan bintang
mengaca dalam derai langit senja
langsung bermukim tak mau lepas

Kotaku Lorca di mana aku lahir
di mana aku dewasa dan mengenal diri
mungkin pula di mana kematianku
tidurku, dukaku ya segenap peristiwa diri

Seperti kau menemui diri
sepanjang kehijauan bukit-bukit
dengan nada berlenggang berat
dengan gitana berlangkah jauh

Kotaku Lorca di mana aku berkubur
betapa pun tubuhku jauh terlempar
dan sekalipun pernah kunodakan

Di mana aku mendapatkan waktu
dengan segenap mula dan akhirnya
segenap ujung dan pangkal
mencair dalam satu kejadian

Mengaca dalam perbuatan sehari-hari
dalam getar dan tantangan
dengan hati demi hati
karena ingin mendapatkan satu hakekat

Tentang kelahiran
tentang kehadiran
kalau mungkin kematian
juga saat mula dan akhir

Sekalipun mungkin itu tak pernah dicapai
sebagaimana mereka
sampai kini tetap asing dengan segala itu

Padanya berlekat sebagian diriku
berujud dalam derai cemara
berbentuk jalanan berdinding tua
berhakekat pada malam dan siang

Bila waktunya kumenyusul kau
dari alam hijau ke alam biru
kubawakan kotaku dalam puisi
seperti kau meninggalkan ladangmu

Salamku padamu Lorca
pada mula bulan April ini
ku masih berdiri padanya
berselimutkan angin, awan dan bintangnya

Kapan segala itu berakhir
bagaimana kubisa mengatakan
derai anginpun, ku tak bisa menggapai

Di bulan-bulan April
di kotaku berganti musim
ialah mula musim kemarau
dan berakhirlah musim-musim basah

Kau tahu bagaimana mula musim panas
musim warna
musim hati
musim daunan hijau dan dewasa

Langsung memberi nikmat
dan kedewasaan alam
setelah semusim penuh
terbenam hujan panjang

Serupa diri setelah basah dengan umur
lalu dewasa, mengenal siapa dia
kenal apa itu saat terakhir

Di saat-saat demikian
di kotaku mengembang malam panjang
berhati bulan terang
beratap ribuan bintang

Senja hari, sebelah jauh
berbatas-batas daunan cemara
di jalan-jalan bersimpang hati anak-anak
bergetar, berlonjakan dengan getar bumi

Melambaikan tangan yang masih bulat
serupa teman lama dengan alam
serasa seayah ibu dengan matahari
dan menyanyikan kuat-kuat

Kutunggu kau sampai esok
di hijau daunan pagi
di hijau daunan alam

Kau pernah lahir dan dewasa
pernah mendapatkan satu musim
yang jauh, dalam dan hijau
memberat, percaya dan kuat

Seakan lahirnya satu kejadian besar
hatinya sebagian dari bumi
cintanya sebagian dari waktu
bila mati bukanlah satu kematian

Dirinya kembali berpusar menjauh
kembali semua yang telah gugur
membentuk diri bulat-bulat
serupa kelahiran baru

Dalam bentuk lebih dalam
dengan wajah
berpancar alam sendiri

Begitu hari-hari permulaan April
begitu hatiku
begitu kotaku
berpinta dalam satu ingin

Entah hari-hari tengah bulan
mungkin masih begitu
mungkin sudah berganti
mungkin pula sudah berakhir

Aku tak pernah berkata tentang esok
apa yang berlangsung
itulah aku
itulah waktu

Apa yang akan datang
ada catatan-catatan di dinding
tapi tak pernah kuucapkan

Mungkin kau pernah berpikir demikian
menerima alam tidak sebagai milik
sekalipun hari-hari rindunya mendesak
membuat kerinduan jauh

Akupun tidak menerimanya
sekalipun hari-hari cintaku berpinta
aku tidak mengaku
sekalipun terasa sebagian dari diri

Karena pada satu saat
akan sampai saatnya berpisah
pudar segala itu
dari bentuk dan ujudnya

Kalau tinggal, hati dan puisi
tinggal arti dan cinta
dan salam yang terakhir

Kuulangi salamku
salam kelahiran sehijau alam
salam kehadiran sehijau arti
salam kelahiran satu ibu

Pada satu saat begitulah
perjalanan ini membelok
terhenti di jalan simpang
satu ketidak tahu, satu ketidak mengerti

Tapi aku sudah menerima
dan sudah menyelesaikan
dalam satu getar cinta

Salamku pada Lorca
kau tahu bagaimana salam penyair

Romance Perjalanan I (1955)
Puisi: April
Puisi: April
Karya: Kirdjomuljo

Catatan:
  • Edjaan Tempo Doeloe: Kirdjomuljo
  • Ejaan yang Disempurnakan: Kirjomulyo
  • Kirdjomuljo lahir pada tanggal 1 Januari 1930 di Yogyakarta.
  • Kirdjomuljo meninggal dunia pada tanggal 19 Januari 2000 di Yogyakarta.
Baca juga: Puisi Kau Wanitaku

0 Response to "Puisi: April (Karya Kirdjomuljo)"

Posting Komentar