Puisi: Dongeng kepada Seorang Asing (Karya Siti Nuraini)

Dongeng kepada Seorang Asing

Depan rumah kami di Kacainanyo
alang-alang makin tinggi pun pohon makin tua
Dan makin tegar hati adikku si Paibo
biar usia baru delapan kali dua

Tiap senggang ia berjalan di tepi malam
(satu-satunya lembut seperti dada nenek kami)
membungkuk-bungkuk ke bumi dan
samar gapai tangannya. Ia mencari
tampungan rasa malu di genggam
telah meluncur dari celah jari-jari.
Kulihat ia hilang disaput antara.

Aku berseru! Ia pulang. Redup cahaya
menyambut diam muka kehilangan rona,
pandangnya nanap ke luar, lagi aku serukan.
Terus tangan menjabat benda kuberikan.
Taat disusunnya jari,
dilumatnya tubuh dan hati:
ke dalam rongga angkuh melandai
pusat cahaya menghitam dalam.

Ia tidak lagi palingkan muka
Kerjanya menghembus jiwa rongga mati.
Cerlang mata tidak lagi retak pada kata-kata.
Ia membangun tenteram kami sendiri.

Demikian dongengku pada seorang asing
Tangan lesu mengusap lengkung meja
yang ia rangkum dan cium tapaknya
dan hangat sekejap — kembali asing.

Dari Mimbar Indonesia (29 April 1950)
Puisi: Dongeng kepada Seorang Asing
Puisi: Dongeng kepada Seorang Asing
Karya: Siti Nuraini

Catatan:
  • Siti Nuraini lahir di Padang, Sumatra Barat, pada tanggal 6 Juli 1930.
  • Nama lengkap Siti Nuraini adalah Siti Nuraini Yatim.
Baca juga: Puisi Senyummu Semangatku

0 Response to "Puisi: Dongeng kepada Seorang Asing (Karya Siti Nuraini)"

Posting Komentar