Puisi: Penyair, yang Lahir di Tanah Air

Penyair, yang Lahir di Tanah Air
Inilah aku,
Burung unta dari seberang
Bulu-bulunya terbuat
Dari pantun, sajak dan tembang
(Vladimir Mayakovski)

(I)

Di balik puncak segala kemegahan
Meringkiklah aneka bencana, duka nestapa
Bangsa yang primitif menari-nari
Di atas kepala-kepala kurbannya
Maka nabi pun berkata:
“Tunjukkanlah jalan kepada mereka”

(II)

Semarak warna api pada senja, saat-saat ajal tiba
Tumbuhnya kerajaan gelap, seorang pun tak tahu
Unsur demi unsur lenyap, tiada gejala
Tak ada yang berteriak, tak ada buka suara
Melalui tubuhnya yang dingin, tergeletak
Tergores sejenak:
“Dari asal pulang ke asal”

(III)

Di jalan-jalan yang sesat, di pojok-pojok ketololan
Perempuan-perempuan centil dan genit
Memasang jerat, menghimpun maknit
Dan tak tahulah kita, apa ini sorga atau neraka
1001 macam impian dalam 1001 macam permainan
Usialah yang menandainya, sudah cukup tuakah kita?
Ketika bayang-bayang maut merangkak pada tengkuk dan pundak
Semuanya baru ingat, semuanya baru tahu

Juga para dewa, kecuali yang satu
Bahwa sebenarnya bukan begitu
Maka mereka pun berdoa, buat kesekian kalinya:
“Ampunilah segala dosa”

(IV)

Kuasa tanpa senjata, panglima tanpa tentara
Itulah nasib, mendadak menyapa kita
Memberi perintah buat menyerah

Hanya para mertua yang penuh curiga
Atas menantunya yang banyak bicara
Melihat pada keping-keping kebodohannya
Tersembunyi pada hati yang kurang teliti
Dan batuk mendehem, sekedar menutup kepalsuannya
Masam rasa yang menari di atas kemanisan muka

(V)

“Jam dua belas malam, bangun tersentak
Kulihat istriku dan anak-anak
Nyenyak tertidur, barangkali sedang mimpi
Di sini, tak ada mistik
Demikianpun politik
Hanya selimut buat mereka, dan nyamuk pada pipi
Harus kujentik”

Melalui celah-celah tembok, langkah-langkah mata
Menyusuri bayang-bayang masa, abad demi abad
Dan tumpukan waktu, hingga zaman jahiliyah
Di mana bayi-bayi yang murni dan perempuan- perempuan tak berdosa
Mestikah terjadi, berkali-kali, justru pada abad ini?
Sentuhlah dahi, bahwa semua itu pernah selalu terjadi

(VI)

Umpan-umpan pada kail mata pancing
Ikan-ikan yang malang
Kebutaan demi kebutaan terhuyung, dipapah oleh kedungan
Tersaruk-saruk, di lorong-lorong kepicikan
penyair yang lahir hari ini
Pulang pergi dicaci-maki, sia-sia kata
Tanpa banyak ambil perduli, atau dicurigai
Bikin pusing bapa menteri, dan jawatan imigrasi
Duhai penyair, yang lahir di tanah air
Lorca dan Lumumba, Hafiz dan Tagore
O Ronggowarsito, bilanglah pada Hasan Mustafa
Inilah aku,
Tempat asal Indonesia.

Puisi: Penyair, yang Lahir di Tanah Air
Puisi: Penyair, yang Lahir di Tanah Air
Karya: Dodong Djiwapradja
    Catatan:
    • Dodong Djiwapradja lahir di Banyuresmi, Garut, Jawa Barat, pada tanggal 25 September 1928.
    • Dodong Djiwapradja meninggal dunia pada tanggal 23 Juli 2009.
    Baca Juga: Puisi Cinta Rindu

    0 Response to "Puisi: Penyair, yang Lahir di Tanah Air"

    Posting Komentar