Batu, Bangka Curut, Selokan: Suatu Sore

(1)

Kau tak jadi meludah ke selokan ketika kaulihat dekat
batu ada bangkai curut yang kemarin kautendang dari
tengah jalan ke situ. Lalat tampak berkerumun, sesekali
hinggap di batu yang tak kauingat lagi entah sejak kapan
ada tepat di tengah saluran air itu. Kalau nanti hujan turun
air akan menyeret bangkai itu, meskipun tinggal sisa. Kau
tahu pasti batu tidak akan terbawa ke mana-mana dan
ia ikhlas menunggumu lewat setiap hari menyaksikanmu
meludah setelah terdengar batuk-batuk sambil sesekali
mengucapkan beberapa kata atau gumam atau engahan atau
apa. Kau tahu pasti ia mendengar semuanya, mendengarkan
semuanya, moga-moga ia tak pernah memahami maknanya,
katamu kepadaku di sore hari yang menyisakan beberapa
ekor burung berjajar di kabel listrik dan cahaya kemerahan
yang berusaha bertahan di beberapa bubungan rumah.
Moga-moga bangkai curut itu tidak mengganggumu, katamu
– tentunya kepada batu itu.

(2)

Tidak akan ada yang mengusut hubungan antara
bangkai curut, batu, dan batukmu. Tak juga akan ada yang
peduli bahwa kau tidak jadi meludah ke selokan ketika
melihat ada bangkai itu dekat batu. Selokan tahu kaulah
yang iseng menyepak batu itu masuk ke dalamnya pada
suatu hari, dan kau pula yang menendang bangkai curut
sehingga sedikit menindihnya. Itu pun bukan siasat si
bangkai curut agar merasa ada tempat bersandar sebelum
ia sempurna tiada. Ia tak boleh iri pada batu yang tak akan
terbawa air selokan kalau nanti penghujan tiba. Aku tertawa
kecil, moga-moga kau tak mendengarnya. Aku harap kau
memahami kenapa aku tak jadi meludah tadi, katamu sambil
memandang tajam padaku – tetapi lebih kepada dirimu
sendiri.

(3)

Kita melangkah pelan di jalan kompleks yang
bermuara di sebuah lapangan bola. Tak terdengar lagi
teriakan anak-anak itu.

"Puisi: Batu, Bangka Curut, Selokan: Suatu Sore (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Batu, Bangka Curut, Selokan, Suatu Sore
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post A Comment:

0 comments: