Puisi: Panmunjom, Musim Panas 1970 (Karya Taufiq Ismail)

Panmunjom, Musim Panas 1970

Korea, semenanjung itu, matanya terpejam
Silau musim panas 
dari matahari
ia membaring,
memanjang 
pada salah satu 
tulang rusuknya,
melintang 
dan menggelombang melintas 
bukit 
demi bukit
yang berumput kering
yang berkawat duri
bagaikan sirip 
lumba-lumba
yang berenang 
diam-diam
di atas rumputan kering
di atas lautan semak
tidak ada suara
tidak ada lalu lintas
tidak ada kanak-kanak
tidak ada gerobak air
tidak ada 
pemandangan desa
inilah bukit-bukit yang termashyur itu
bukit-bukit kubur
yang ada adalah sepotong perut semenanjung
dan cuaca di antaranya
ternyata tidak dapat kita menentukan segala-galanya
di sini sengketa
yang pernah membakar sumbu-sumbu logam
dan lalu berpijaran
melompat dari satu bukit ke bukit lainnya
telah agak padam dan bersembunyi di antara rumput-rumput kering
dan menyelinap di antara semak-semak liar
atau bertengger jadi segumpal kanker pada sebatang pohon kastanye
di puncak sebuah bukit di sana
dan, di belakangnya adalah sungai dengan warna air sedikit keruh
saat ini semua diam
ada juga sesekali 
margasatwa berbunyi
ataukah sedikit bernyanyi? Tidak kukenal nama serangga itu
tentunya dia akan keluar dari sarang musim-dinginnya,
mengibas-ngibaskan sayapnya yang bagaikan kertas plastik,
mengusap-ngusapkannya pada kakinya yang beruas-ruas
dan mungkin sekali mengeluarkan bunyi yang aneh dari gesekan itu
atau dari tali tenggorok
mungkin begitu mereka
tentunya berjuta-juta di tanah ini
lepas musim semi dan sebelumnya
musim dingin yang kejam,
sepatutnya di bulan Juli ini,
pada siang ini mengeluarkan serempak bunyi yang bisa amat dahsyat
inilah angan-angan yang tidak sepantasnya terjadi siang hari
siang ini
karena langit amat bersih
cuaca 80 serta lembab
dan di kawasan tak bertuan ini
jalannya tanah,
berdebu
sedikit merah dan bisa mengepul
ketika dua orang anak muda itu mengenakan jaket tahan peluru
mencoba membunyikan mesin jipnya
sementara di lereng sana beberapa orang mengawasi
ada yang mencangkung di gardu demarkasi
tidak kukenal nama-nama mereka
tentunya mereka ketika keluar dari barak-barak musim-dingin,
mengibas-ngibaskan lengan dan urat-urat pinggang yang pegal,
menggosok-gosok corong-corong baja mereka
dan mungkin sekali pernah mengeluarkan bunyi yang aneh itu
dari picu-picu atau tidak seimbangnya komposisi bubuk mesiu
mungkin begitu mereka tentunya berpuluh-beratus-ribu di tanah ini
lepas musim semi, lepas musim dingin yang kejam
dan menjelang musim rontok
di padang lepas berbukit-bukit ini
berpandang-pandangan dalam diam
yang bisa akibatnya jadi amat dahsyat
inilah angan-angan yang tidak sepantasnya terjadi
inilah pilem-pilem tua yang tidak layak diputar lagi siang hari
siang ini
sementara langit amat bersih lembab musim panas yang pengap
di atas sepotong tanah semenanjung di bawah setangkup langit demarkasi
yang mengawasi bukit-bukit
yang 
menggelombang dan kering di sana-sini
sedikit hijau 
semak-semak liar
dengan kuntum-kuntum alit dan kabut jauh yang agak biru
di sini kesunyian mengenalkan dirinya
dengan suasana sedikit tajam dan papan-papan penunjuk
yang huruf-hurufnya terlalu persegi serta hitam,
agak luntur mengenai divisi kedua
tetapi di manakah kawanan burung-burung itu
yang layaknya berterbangan dalam formasi
atau campur-baur seperti di khatulistiwa
dan sayap-sayap mereka yang sebentar nampak sebentar hilang
atau semacam elang yang mengapung
bagaikan menggantung dalam gerakan yang hampir tanpa gerakan
tetapi di manakah kawanan itu
sekarang di atas bukit-bukit di bawah setangkup langit awan pun tiada
langit pun bagai baki perak yang menyilaukan terlalu polos
adanya lengang ini terasa 
tajam
amat sehabis peperangan udara dengan unggas-unggas logam yang bisa
menjerit-jerit garang dan mencecerkan ledakan
ledakan luar biasa dengan asap-
asap
dan kerusakan-kerusakan yang matematis
dan putus-putuslah siklus biologi ini
karena sirkulasi darah dipotong-potong,
sistem tulang dan saraf diobrak-abrik,
silsilah pohon keluarga ditebang-tebang,
panen biji-bijian dan buah-buahan dirusak,
migrasi burung-burung jadi kacau,
air minum bau kelongsong dan air mata dan air mata ...
tapi sudah itu
... angin ...
kini pun
nampaknya ada sedikit angin
lewat rendah, membuat garis-garis lengkung pada pohon nue tee
di pundak bukit itu
dan juga di lerengnya
pada punggung akarnya dan
di dalam ketiak daun-daun
pasti ada unggas kecil berteduh
serta beberapa insekta, yang
menyiapkan bunyi-bunyian untuk beberapa jam lagi bila malam turun
tentunya juga beberapa hewan bersayap rapuh
yang bisa menyalakan lampu fosfor alit
di badannya, sedang istirahat untuk penerbangan sebentar malam
mereka tengah membenahi sarang-sarang
kecil di kulit-kulit kayu
sementara angin sore yang enggan
begitu saja membentuk garis-garis lengkung
lewat semak-semak liar menggelombang sepanjang
barangkali 240 kilometer dan singgah di setiap check-point,
sekali pun check-point
yang paling sepi dan paling dikhawatiri...
dan sebuah truk menderum
dan mengipaskan debu
pada sebuah lembah ini suatu komposisi yang agak aneh
tetapi pasti ada saat itu beberapa serdadu
yang jemu memikirkan tentang bunyi-bunyian gitar,
transistor saku atau bunyi kelamin
beberapa jam lagi
bila malam turun
pada kedua sisi
perbatasan, yang lebar
empa tribu meter dan Korea,
semenanjung itu, matanya terpejam mengantuk pada
malam musim panas
dengan sebuah bulan
yang sempurna bulatnya
dan menguraikan benang-benang
sutera cahayanya
yang berserak
pada bukit-bukit
yang termasyhur itu
sementara
tunggul
sebatang
pohon kastanye ingat pada peluru-peluru sinyal cahaya dua puluh tahun yang lalu.

1970
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Panmunjom, Musim Panas 1970
Karya: Taufiq Ismail
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar