Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Pagi Terakhir di Sebuah Losmen di Djalan Gerdjen (Karya Taufiq Ismail)

|
Pagi Terakhir di Sebuah Losmen di Djalan Gerdjen


Kawan-kawan telah berangkat pagi ini. Tinggal lagi
Puntung-puntung rokok. Aku dan Arifin
Di luar penyapu sedang membersihkan lantai
Debu bertebar dan ada perasaan aneh
Bernyanyi lewat radio di sebelah
Dua gelas kopi yang panas, di atas meja
Kita tak berkata-kata, tapi ada suara
Yang lengang. Suara musim yang kemarau
Suara musim pengap. Lewat naskah-naskah kita
Gemuruh arak-arakan, deram seribu genderang
Yang lengang. Lewat bunyi unggas pagi
Langit Yogya. Sepotong dan biru
Arifin mengenakan sandalnya dan menyisir
Kami harus meninggalkan losmen ini
Kawan-kawan telah berangkat lebih dahulu
Pembicaraan telah selesai, dan kerja
Menanti. Agaknya kerja Sisyphus
Menyusun gunung batu. Agaknya
Tapi kopi sudah habis, dan kita
Harus berangkat. Di luar losmen
Jalan memanjang batu karang
Kemarau dan cemeti
Tak ada lain pilihan
Kita
Harus
Jalan.


1965


Puisi Taufiq Ismail
Puisi: Pagi Terakhir di Sebuah Losmen di Djalan Gerdjen
Karya: Taufiq Ismail

Bacaan Menarik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar