Puisi: Epidemi Lelaki Mati (Karya Afrizal Malna)

Epidemi Lelaki Mati

Pagi, seperti sebuah epidemi waktu. Aku ingin  mengulangi lagi pagi kemarin. Matahari sama, petugas kebersihan kota sama, penjual kopi di warung kopi sama. Pagi hari, semua tidak sama lagi  dengan kemarin. Darahku menyusun sel-selnya lagi,  membangunkan seluruh makhluk yang menginap dalam tubuhku. Mereka merayakan epidemi pagi. Cahaya hangat matahari, kopi hangat, pisang goreng  hangat. Kenangan bercinta yang tersisa pada  pecahan kulit telur ayam.

Pagi yang menular, hingga aku seperti memandikan mayatku sendiri di kamar mandi. Aku bersihkan gigi,  kuku dan seluruh tubuhku yang bukan hidup lagi,  yang bukan aku lagi, yang bukan seorang pagi lagi. Aku rayakan lelaki mati di sebuah pasar yang pernah terbakar di Surabaya. Kini berdiri sebuah mall di s ana. Mall dengan sisa-sisa bau beras terbakar masih  tersimpan di seluruh dindingnya.

Double espresso, aku memesan kopi kental. Seorang  lelaki mati memelukku. Kekasihku, katanya, aku tidak bisa lagi mengingat cintamu. Tetapi aku tak pernah lupa pelukanmu. Jejak-jejak pasir di bibir, sebuah  perahu yang tidak lagi merasakan waktu. Sebuah  pantai yang pergi, meninggalkan sebutir pasir di  telapak tanganku.

Puisi: Epidemi Lelaki Mati
Puisi: Epidemi Lelaki Mati
Karya: Afrizal Malna
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar