Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Perempuan yang Menamai Dirinya Hujan (Karya Dimas Indiana Senja)

|
Perempuan yang Menamai Dirinya Hujan (1)

Seorang perempuan menunggu senja,
Di sela jemari lentiknya ia gantungkan harapan
Dalam lengannya yang rapuh, karena terlalu lelah
Memunguti hujan yang deras menikam batinnya
Hingga matanya lebam
Dan wajahnya mendung, awan gelap merenggut paras ayunya
Wewangian di tubuhnya beterbangan terbawa angin yang muasalnya
Tak berarah. Menanggalkan kesetiaan yang ia dekap dalam gigil tubuhnya.


Perempuan yang Menamai Dirinya Hujan (2)

Perempuan itu berteriak di tepi pantai,
Hatinya bergemuruh, dan lebih riuh dari ombak
Dan melahirkan buih-buih putih, memenuhi hatinya yang resah
Karena gedeburnya tak berkesudah.


Perempuan yang Menamai Dirinya Hujan (3)

Ia mengulang-ulang teriakan yang sama
Hingga camar yang melintas-lintas di kepalanya
Menyudahi percumbuannya dengan kelam
Langit masih bisu, seperti sedia kala
Hatinya makin resah, lalu ia mengambil segenggam pasir
Di telapak kakinya, lalu ia tebar ke awan
Dan jadilah hujan.


Perempuan yang Menamai Dirinya Hujan (4)

Dari hujan itu, ia lumuri dadanya dengan airmata
Tempat ia memendam kerinduan sedemikian ceruk, dan ia bercerita
Kepada laut yang dulu mempertemukannya dengan senja
Sebelum almanak benar-benar menutup hari dengan nestapa
Lalu ia pohonkan mawar di hatinya,
Dan ia rapalkan mantra kepada langit, kepada ilalang, juga
Kepada segurat warna jingga di matanya,


Perempuan yang Menamai Dirinya Hujan (5)

Seorang perempuan menamai dirinya hujan,
saat air matanya mulai kering
dan membentuk siluet Senja.


Pondok Pena, Juni 2012

"Dimas Indiana Senja"
Puisi: Perempuan yang Menamai Dirinya Hujan
Karya: Dimas Indiana Senja

Bacaan Menarik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.