Di Makam Imam Bonjol

Assalamu’alaikum, ya syarif tua! Aku datang menjengukmu
dengan hati iba ibarat anak dagang berkayuh sekeping papan.
Jauh sekali tempat engkau berbaring tapi bertahun jarak
yang memisahkan kita tak terasa sedekat jarak kain dan papan
mendekap roh di badan.

Ingin kuukur jubahmu, dari tumit ke sorban
tidak besar tapi membungkus keberanian
persis buntalan anak dagang yang bersiap pergi
membawa peruntungan, di tiap tikungan
engkau menghadang siapapun
yang bersekutu dengan apa pun yang bisa dipersekutukan
sedang engkau hanya bersekutu dengan Tuhan.

Benarkah ada tanah buangan? Bagi mereka yang mengira
dapat menerabas angin dan fajar, memutus air dan api
setiap pelosok ujung bumi mereka namai tanah pengasingan
dengan kapal-kapal oleng mereka kirim para pesakitan
terlunta dan kejam. Tapi tahu apa mereka tentang fajar?
Fajar mengandung angin pagi, air dan lidah api, menyepuh satu
bumi tempat lahir dan mati.

Maka engkau, syarif peto, tak merasa asing terbuang
dari Tanjung Bungo ke Pinelang, saudara jua yang kaujelang
engkau perantau sebagaimana semua orang perantau
di bumi jalang. Maka sebagai sesama perantau
perkenankan kusentuh nisanmu
dan kucium batu sembahyangmu
dengan rida hati si anak dagang, entah kapan akan pulang!

Manado-Yogyakarta, 2009-2011
"Puisi: Di Makam Imam Bonjol"
PuisiDi Makam Imam Bonjol
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post A Comment:

0 comments: