Cocktail Party

Meluruskan kain-baju dahulu
meletakkan lekat sanggul rapi
lembut ikal rambut di dahi
        pertarungan dapat dimulai
berlomba dengan waktu
dengan kebosanan, apa lagi
pertaruhan ilusi
        seutas benang dalam taufan
amuk badai antara insan.

taufan? ah, siapa
yang masih peduli
tertawa kecil, menggigit jari adalah
        perasaan yang dikebiri
kedahsyatan hanya untuk dewa-dewa
tapi deru api unggun atas
        tanah tandus kering
angin liar, cambukan halilintar
        mengiringi.

perempuan seram yang kuhadapi, dengan
garis alis dan cemooh tajam
        tertawa lantang –
aku terjebak, gelas anggur di tangan
tersenyum sabar pengecut menyamar –
        ruang menggema
dengan gumam hormat, sapa-menyapa
dengan mengibas pelangi perempuan
itu pergi, hadirin mengagumi.

Mengapa tergoncang oleh cemas
dalam-dalam menghela napas, lemas
        hadapi saingan dalam arena?
kata orang hanya maut pisahkan cinta
tapi hidup merenggut, malahan maut
        harapan semu tempat bertemu.

itu pun hanya kalau kau setuju
keasingan yang mempesona, segala
tersayang yang telah hilang –
        penenggelaman
dalam akrab dan lelap
kepanjangan mimpi tanpa derita
dan amuk badai antara insan?
gumam, senyum dan berjabatan tangan.


Puisi: Cocktail Party
Puisi: Cocktail Party
Karya: Toeti Heraty

Post A Comment:

0 comments: