Tidak setengah-setengah.

Puisi: Elegi (Karya Toeti Heraty)

|
Elegi (1)


(1)


kau gelisah sayang
tampaknya malam yang menyingkirkan awan
tetapi pucuk-pucuk mendung
                memercikkan getar
pohon-pohon tegak
rumput semak dan riuh kota telah lelap
bersembunyi dalam satu nada sunyi
menunggu, adalah pembunuhan lambat
                yang sedang berlalu
dan semangat hilang melewati lobang-lobang
                dalam kelam
kau gelisah sayang,
membuang muka tidak ingin melihat
                bulan dilingkari sepi
sepi dan detak jantung jadi degup
lambat-lambat dan semakin berat
menunggu taufan selesai


(2)


ada yang kehilangan mimpi
dan sisa-sisa
diulur dari hari ke hari
dalam satu dunia
kelabu ...

ada yang kehilangan mimpi tapi apa
yang hendak dikata bila tiba-tiba
perahu-perahu menyisih bergulung layar dan
mimpi dibawa gelombang kembali, terdampar ...

kita undur setapak karenanya dan
kelip-kelip pelita malam adalah mata
berkedip bertahan mengingkari kekalahan


(3)


karena kupu-kupu yang hinggap
        kelepar kekuningan memekatkan sejuk hijau
        jadikan bayang-bayang lebih mesra

di antara semak kuncup merah,
        hampir-hampir merapat ke tanah
        dan nyala kelopak sempat
        jadikan bayang-bayang lebih mesra

dan tangan-tangan cemara yang mengusap langit
        lebih asyik kagumi lambaian
        satu pohon palma
        jadikan bayang-bayang lebih mesra

waspadalah sayangku, waspadalah karenanya ...


(4)


suatu saat

bulan akan cemerlang kembali
ia cemerlang kembali

ah, bulan — , dilingkari sepi
lebih cemerlang dari semula
ia kembali, ia kembali

bulan dan cemerlang
membakar kerat-merat dendam dan
usapan-usapan yang meredakan, hilangnya
mantra sakti lagu tidur membuai ...

bulan, bulan telah kembali

Mei, 1967


Elegi (2)


(1)


oleh garis-garis jingga
tergores kesabaran senja
belum juga terungkap
lapisan awan menimbun
rahasia mendekap
di lubuk hati ...

bayangkan
hati-hati, cemas tanggalkan
satu per satu angan dan mimpi
apa pula yang terbawa serta (!)
alhasil, tidak temukan
degup kembali

mesra dan gelora
kira-kira demikian nyatanya:
bagai nyala angin
meratapi mati bertahap yang
lambat menyelinap
dalam hati


(2)


seharusnya ada
perhiasan permata, lihat
awan-awan tipis mengkapasi
beledu ruang yang biru muda
lalu —
terlihat burung-burung
bersembilan, lebih! sepuluh, sebelas!
terbang melingkar luas dengan
irama kelepar permata dan —
hanya sebentar tertunda
tapi
memang karena tidak sabar
isyarat dikejar meski benda-benda
pada umumnya paling-paling berpola
secara kebetulan saja —

kelepar permata pada hari biru dan
burung-burung melingkar luas:
lengan dengan pelukan aman, suatu ajakan
yang masih saja tertunda


(3)


sekali kita akan menyeberang jalan
ke kiri, ke kanan, kendaraan berlalu
kita akan berpegang tangan melintasi
hidup yang terburu-buru

di Selemba
agaknya matahari tersenyum menggelombang
melihat arus bersungguh hati, apa pula
yang dicari, siapa tahu pernah
tergenggam, atau terlepas lagi
pada peristiwa senyum yang meluntur
anggukan yang tidak memadai —

agaknya matahari tersenyum, kurang peduli
sebentar berpandangan —
belum juga menyeberang masih saja
kita menunggu di tepi


Juni, 1967

Sumber: Sajak-Sajak 33 (1973)


Puisi Toeti Heraty
Puisi: Elegi
Karya: Toeti Heraty

Biodata Toeti Heraty:
  • Toeti Heraty lahir pada tanggal 27 November 1933 di Bandung.
  • Toeti Heraty meninggal dunia pada tanggal 13 Juni 2021 (pada usia 87) di Jakarta.

Bacaan Menarik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar