Puisi: Manusia Utama (Karya Sutan Takdir Alisjahbana)

Manusia Utama

Beta selalu menggemari pemandangan lantang: di
pinggir laut yang luas, di puncak gunung yang tinggi.

Dan sekarang beta berdiri di tengah padang yojana:
sejauh mata memandang ruang lapang, di atas mem bentang
gelanggang awan terbang.

Di sini dada kurasa limpah ruah, darah mengalir
berbusa-busa, tenaga mekar tiada berhambat.

Tuhan menjadikan manusia penguasa seluruh buana:
matanya tembus menerus segala hadangan, telinganya
menangkap segala getaran, langkahnya melewati segala
watas dan tangannya menjingkau ke balik angkasa.

Dan hanyalah ketakutannya sendiri yang menjadikan
makhluk itu ulat papa tiada berdaya.

Beribu tali dibelitkannya sekeliling badannya, se hingga
akhirnya ia tiada dapat bergerak lagi.

Picik matanya akan rahasia alam dan takutnya akan
mati disucikannya menjadi agama. Malasnya berpikir
dan menyelidiki dinamakannya percaya.

Takutnya bertanggung jawab disembunyikannya di
balik nasib. Ngerinya berjalan sendiri dipalutnya dengan
keluhuran sepuhan adat.

Dan akhirnya tertutuplah sekalian kemungkinan alam
yang luas baginya dalam kepompong gelap yang di jalinnya sendiri .......

Sedangkan bagi kepompong ulat, makhluk yang lata
itu, alam menjanjikan kemuliaan dan kemegahan, telah
sepatutnya bagi kepompong manusia, makhluk utama
yang lengkap berakal dan berbekal itu, hanya teruntuk
kehinaan dan kemelaratan.

Sebagai hukuman akan kealpaannya terhadap penjelmaan
kebesaran dan kekuasaan Tuhan dalam dirinya.

4 Mei 1944

Puisi Manusia Utama
Puisi: Manusia Utama
Karya: Sutan Takdir Alisjahbana
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar