Bengkulu yang Manis

Bengkulu yang manis
aku datang dari jauh
dari balik bukit sebuah pulau
nun di kaki Seulawah

Aku datang dengan rencong
yang telah kusarungkan sebagai
cenderamata bagimu saudaraku
satu darah, satu moyang:

Para pelaut, pedagang dan pesiar dari negeri-negeri jauh dan singgah untuk berniaga, melancong dan berdakwah di pulau ini
lalu lahirlah kita - orang Sumatera.

Bengkulu yang manis
aku tak pernah membayangkan
bakal datang ke Pantai Panjang
menikmati ombak yang tenang

menggigil di sejuknya kebawetan
berpuisi di pucuk-pucuk teh
dengan daun-daun yang hijau
di puncak Kepahiyang.

Aku menikmati tetabuhan dol
dan atraksi muda-mudi kepahiyang
yang elok nian menyanyikan dan menarikan masa depan

Bengkulu yang manis
aku datang dari ujung pulau,
pulau ini juga, yang kaya rempah
dan sejarah, terharu di ujung senja:

sambil membayangkan
sebuah negeri yang berbukit-bukit
dengan pantai yang teduh
dan udara yang sedingin es

Kita bermain-main dengan kenangan:
Sukarno yang bergitar di beranda
sambil menyanyi untuk Fatmawati
tentang Republik yang merdeka

Aku menapaki tangga dan ruang-ruang malborogh mencari kenangan yang lain:
keperkesaan orang-orang bengkulen.

Ketika lelah, kita menghabiskan sore di Danau Dendam Tak Sudah
menikmati angsa-angsa dan burung-burung yang pulang ke sarang.

Dan di Curup, kita boleh sepuasnya memadang matahari yang terbit atau terbenam - di puncak Bukit Kaba
sambil mencium aroma pucuk-pucuk teh dan bunga kopi

Jangan lupa pula ke Manna, tempat raflesia pertama kali ditemukan
oleh seorang dokter dari Inggris yang begitu mencintai alam - Joseph Arnold - pada 1818.

Bengkulu yang manis
Aku ingin berkisah banyak tentangmu - bidadari cantik yang
tiap pagi bermandi cahaya di tepi kali di sebuah lembah yang adem.

Mari terus tersenyum, duhai manis
bersama matahari yang tak
pernah terbenam
sambil merancang anak-anak tangga pendakian.

Kepahiyang, 15 Juli 2018
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Bengkulu yang Manis
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Bebas tentang Gunung

Post A Comment:

0 comments: