Puisi: Cerita di Taman Topi Karya: Mustafa Ismail
Cerita di Taman Topi

Sepasang burung tua, segerombolan hujan, dan
mata sore yang muram menulis riwayatmu:
topi-topi seperti rumah-rumah yang tak pernah
dicintai, ramai namun sunyi

Kita menulis sajak di Stasiun Bogor
lalu melempar diksi-diksi tak terpakai
ke luar jendela: mengapung di genangan hujan,
tergilas roda kereta

Mata sore tetap basah meski bibirmu sebeku salju
kau bertanya tentang pagi yang riang
awan berarak mengikuti matahari yang menari
di bangku-bangku taman, di jalanan berpaving block

Aha, kita telah menjadi penyair kesiangan
membasuh diri setelah kamar mandi dipatok ayam
kau menjelma burung dara yang tak lelah melompat
dari dahan ke dahan

Adakah yang lebih sejuk dari hujan di kakimu
dibuai nyanyian pohon dan angin dari pebukitan
kau mengunci matahari agar tak beranjak dari timur
agar puisi-puisimu menjadi lebih panjang

Tapi di stasion kereta berkali-kali meniupkan sangkala
sambil berkata: wahai burung-burung tua
telah kusiapkan sepetak lahan basah dan tahi angsa
tempat kau menanam padi dan palawija
pohon-pohon itu masih menyisakan jeritan-jeritan
orang dengan leher menggantung di tangan kompeni
karena mereka membakar rambut para biduan.


Bogor
23 September 2017
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Cerita di Taman Topi
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Gempa Tsunami
Loading...

Post A Comment:

0 comments: