Menunggu Surat
- reportase dari tanah berdarah (II)

Aku menunggu suratmu, setiap matahari terbit
cerita apakah bakal sampai, sebuah puisi cinta
atau potongan air mata
menggenapkan jumlah cita-cita yang mati sia-sia

Keseharian kita adalah sejarah terbakar
kirimlah padaku air dan potretmu yang terbaru
supaya hilang hausku, agar terpuaskan kangenku
sebab kau telah memintaku menunda pulang.

Jakarta, 26 Juni 2000
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Menunggu Surat
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Bebas Pendek

Post A Comment:

0 comments: