Palu di Ruang Kusut

(Kepada Raihan dan mereka yang senasib)

Kita terima saja percikan-percikan api yang keluar dari
palu itu. Tidak penting berapa pun kita harus membayarnya
dengan usia kita, atau dengan sebuah harapan yang roboh
perjalanan ini memang menuntut lebih dari sekedar
bir, wisky, atau apa pun yang membikin kita mabuk dan larut
atau juga percintaan di malam yang larut

Kita mesti bergerak, mungkin berawal dari depan masjid
atau barangkali Simpang Lima. Tidak penting, toh itu sama saja
bagi kita yang penting jalanan ini mesti kita cat kembali
dengan air mata yang bukan turun dari perasaan-perasaan
sentimentil, tetapi dari cinta yang hijau dan tumbuh di
bukit-bukit, dan kita berteriak sekeras-kerasnya: bangun,
bangun kawan, hari sudah siang.

Kita sulap ruang itu menjadi pesta yang bukan pesta biasa
merayakan kematian kata-kata, kematian yang sia-sia.

Jakarta, 31 Januari 2003
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Palu di Ruang Kusut
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Bebas tentang Hujan
Loading...

Post A Comment:

0 comments: