Rigah

Memandang ke pintu teluk angin menciptakan 
Bayang-bayang
Sejumlah kapal yang hilir mudik
Saat-saat anak pulau tersentuh dengan baling-baling
Ada haluan yang sangat kita ragukan
Ketika bulu bukit begitu kencang dipangkas
Sehingga gerai rambut desa
Tidak lagi melambai pada sejarah lama
Memandang dada beurawi payudaranya sudah mengundur
Ketika rawa-rawanya memuntahkan tanah
Luka dilahap dengan nafsu
Ketika birahi bangsa asing begitu memuncak
Pada tahap-tahap terakhir
Terdengar desah dari jauh
Kakanda, aku tidak tahan lagi.

17 Oktober 1993
Puisi: Rigah
Puisi: Rigah
Karya: Hasbi Burman

Baca juga: Kumpulan Sastra Puisi Chairil Anwar

Post A Comment:

0 comments: