Tirom

Di kampung kami, selalu ada senja yang lumer di atas air payau
perempuan-perempuan menadah matahari untuk terbit esok pagi
sebelum mereka berhasil meringkus mulut kuala dan kolam ikan
untuk ditimang-timang di atas pualam.

Sebelum mimpi benar-benar tamat, mereka telah tiba di tubir tebat
kau akan tahu betapa perihnya sayatan ketika disiram asin laut
cahaya selalu berpendar di atas ombak, bukan di jemariku
yang lentik dengan seribu kunang-kunang yang riang

Kota-kota yang selalu menyusup dalam tidurmu,
dengan lampu-lampu tak pernah berhenti kedap-kedip,
hanya ada di ujung jempol kakimu yang tergores rumah karang
lalu diasinkan gelombang

Tidak di kilatan lampu bus-bus yang terburu-buru ke timur
membawa anak-anakmu berlayar
juga tidak di kereta yang terengah-engah
mendaki Seulawah menuju ke Darussalam

Rumah-rumah yang digambar anak-anak di dinding kamar
selalu menjelma kupu-kupu setiap kali mereka bercinta dengan senja
itulah yang membuat langit lebih gegas benderang
sebelum azan subuh berkumandang dari meunasah kampung

Matahari sering ingin terbit lebih awal
tapi selalu saja mata mereka lebih tajam dari cahaya
membuat tubuh-tubuh itu melayang di jalan-jalan berkerikil
seperti bergurau dengan nasib yang nihil

Tapi tawa itu tak pernah lepas sebelum pinggang kuyup
dan jari-jari menggigil

Kau ingat, suatu malam seseorang pergi dijemput elang
dan tak pernah pulang
mereka telah disekolahkan, katamu, sambil menahan tubuh
yang tak lagi bisa gemetar setiap mendengar suara letusan
atau membaui aroma kematian

Di lampoh soh, lorong pasar, juga jalan raya
kita menemukan tubuh-tubuh yang rebah
sambil terus berzikir dalam diam
saat itulah payau-payau dan asin kuala kesepian
nasi di piringmu seperti dusun yang ditumbuhi alang-alang

Tapi mereka adalah perempuan-perempuan yang pintar menyimpan air mata
di tengah tangis anak-anak meski sang lakoe tak mungkin lagi pulang

mereka pun menjadi bapak bagi perahu yang kesepian.

Banda Aceh, 16 Mei 2017

Lakoe:
suami.
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Tirom
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Pendek karya Sanusi Pane
Loading...

Post A Comment:

0 comments: