Beri Aku Malam

Berkali ulang, telah kuucapkan kepadamu, bahwa mataharilah
yang akan menceburkan kita pada waktu. Tapi kauselalu sembunyi
berbagi jarak dengan angkuh, seolah membawa Tuhan ke mana-mana
“Aku sudah terlalu tua untuk berlari. matahari hanya membakar hari
yang bertahun-tahun kusemai dalam damai!” ungkapmu
seakan berupaya melemparkanku pada jurang yang lain. Segumpal silsilah
tempat dulu kita menggambar senapan-senapan pelepah pisang
di matamu kulihat sebuah dusun sedang tenggelam.

Tidak bisakah kaupercaya? Aku juga menanam mimpi untuk cinta
untuk pagi, dan sungai tangis yang menjadi batu. Bila teriknya leleh
atau harapan terpanggang di sepanjang jalan. Marilah bernyanyi
bahwa kedamaian terbakar adalah setumpak hujan yang terlambat
dan senapan-senapan pelepah pisang itu hanya peta kanak-kanak
tapi kita tak pernah lagi bertemu setelah kautuliskan pada senja
“Beri aku malam, seliang kelam menuju Tuhan!”

Puisi: Beri Aku Malam
Puisi: Beri Aku Malam
Karya: Iyut Fitra

Baca juga: Kumpulan Puisi Ibu

Post A Comment:

0 comments: