Daun Berlayangan Satu-satu

Sangat jauh dari kota. Daun berlayangan satu-satu
Burung kakak tua hitam dan kawanan wellabis. Ini pagi terakhir
aku di sini. (Dan kau mungkin telah bermain embun di Makassar)
Kulihat lagi ke sana. ke Marina
Tak ada warna lain di pelabuhan. Selain putih biru yang mencatat
jejak kita di cullen bay. Kautentu ingat saat kita berlari-lari
dan akhirnya ditinggal kapal ke Mandorah? Senja yang nakal, katamu
Lalu memotret kapal-kapal tersandar, temali, dan juga bau angin
Akan kudendami ia sebagai kenangan, lanjutmu gusar.

Luna, aku sendiri di jalanan ini
Dengan ransel penuh pakaian kotor (dan sedikit mainan kunci sebagai oleh-oleh)
Kucoba untuk bernyanyi. Senandung yang parau
dan aku tak bisa meneruskan kisah. Jejak-jejak tersapu debu
Daun berlayangan satu-satu
Seperti engkau, siapa pun akan pergi meninggalkan. Mungkin menyalami
tujuan.

Puisi: Daun Berlayangan Satu-satu
Puisi: Daun Berlayangan Satu-satu
Karya: Iyut Fitra

Baca juga: Kumpulan Puisi Ibu

Post A Comment:

0 comments: