Dialog 1996
(: Musmarwan Abdullah)

Kita meninggalkan kafe terapung ketika malam larut
dan angin lain begitu menusuk
mencatat merkuri dan neon di jalanan kota kecil itu
kau harus pulang ke Kembang Tanjong,
mengetuk rumah yang sedang senyap.

Tapi aku tidak buru-buru, katamu, desaku
masih berderang hingga pagi hari
kita duduk saja di sini, di bawah langit yang membentuk
suasana lain: barisan nelayan bagai sebuah kota
yang tak henti berdenyut.

Kembang Tanjung tidak terlalu jauh dari Sigli,
kota yang sempat menyimpan surat-surat dari lautan
kita pun kembali menghitung bus-bus yang lewat
bersama pengemis yang tak pernah tidur
menangkap isyarat matahari.

Jakarta, 8 Juli 2003
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Dialog 1996
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Bebas Panjang
Loading...

Post A Comment:

0 comments: