Istri Penyair

Setiap pagi ia seduhkan hangat sebagai kopi dan matahari. Di bawah jendela kembang-kembang ditanam mulai daun. Dan ketika ia ceritakan retak mimpi semalam, penyair hanya menyapa dengan selembar sajak tua; mengalirlah sebatas impian, meski yang kita rindu adalah ruang kelengkapan.

Di meja makan siang beringsut perlahan. panas di ubun tegak tali. lelah yang terasa ranggas dan gerah yang kekeringan. Ia siapkan sebuah perjamuan juga sedikit nyanyian di bawah jendela kembang-kembang ditanam mulai tunas. Terasa wangi mulai ada. Tapi penyair hanya berkata; apa pun kenyataan, bertahanlah pada satu keabadian.

Malam menjadi ujung. Selimut dingin terjela di ranjang. Ia kisahkan bagaimana Rama mencuri sesuatu dari Sinta. Kemudian ia buka kain pintu sebelum hasrat jadi beku di bawah jendela kembang-kembang ditanam mulai putik. Kumbang dan rerama ada di antaranya. Penyair hanya gumam saja; kita kan ada sepanjang pandang terlihat sua.

Sebelum jatuh larut. Ia rasa waktu akan beranjak lamban “aku tertimbun kata-kata…”

Payakumbuh, 2009
Puisi: Istri Penyair
Puisi: Istri Penyair
Karya: Iyut Fitra

Baca juga: Kumpulan Puisi Karya Sendiri Singkat

Post A Comment:

0 comments: