Jalu-jalu
(sebuah perpisahan tengah malam)

Sebelum berangkat. yang diusungnya hanya doa
dan kami bertemu di ujung trotoar itu sebelum menuju pasar
kaulihat dadaku tak lagi gempal? denyutnya serupa dengus kereta di stasiun lama
kemudian ia ceritakan sepetak asa yang digadai
orang-orang turun ke jalan. menyanyi seraya menangisi masa lalu
ada beberapa anak muda menari piring. ada beberapa anak muda yang lain
memecah-mecah piring. cermin di matanya tiba-tiba buram
potret, beri aku potret ketika ibu-ibu masih ke tepian. negeri ini akan dijual!
lalu ia mengajakku ke lapik itu. mendengar kisah-kisah lama
tentang pelayaran. atau mungkin kematian

Di lapik itu sejarah dilagukan. adat dianjungkan
sebagaimana waktu terus lepas dan simpul-simpul menjadi tak jelas
ia bisikkan, jangan jual keyakinan untuk anak-anak yang tak makan
kemudian ia buka dadanya yang tak lagi gempal. masih menggumpal doa di sana
seperti pisau. atau barangkali tumpukan darah saudaranya
aku ingin menjumlah gurat-gurat itu. tapi jalu-jalu telah dipuhunkan
kita berniat berlama-lama, tuan berniat memutuskannya
ia pergi. aku pergi
menuju satu pertempuran yang teramat pasti.

Payakumbuh, 2013


Jalu-jalu: lagu penutup dalam kesenian saluang Minangkabau.
Puisi: Jalu-jalu
Puisi: Jalu-jalu
Karya: Iyut Fitra

Baca juga: Kumpulan Puisi Perasaan Cinta Yang Terpendam

Post A Comment:

0 comments: