Jenjang

Aku tak menutup pintu ketika kaumelangkah tak menoleh lagi. Kaubawa semua buaian. Tertinggal aku dalam kenangan. Lalu ribu sepi hambur menusuk ranjang dan bimbang. Hanya potret buram saat kita berlarian merajut senja. Tiada sisa selainnya, “turunlah!”

Aku juga tak menutup pintu ketika kau mengetuknya lagi. Siapakah menghitung musim. Kau bentangkan jalan-jalan dan pencarian. Kau sesalkan arah dan tujuan. Tapi bisakah kaujumlah perih membelit hari-hariku, “naiklah!”

Payakumbuh, 2009
Puisi: Jenjang
PuisiJenjang
Karya: Iyut Fitra

Post A Comment:

0 comments: