Ziarah Bencana

Aku
ziarahi negeri
air mata. hati membatu
luka membisu
hati berlagu
luka membeku
bulan tembaga
tertusuk runcing ilalang.

Aku
ziarahi negeri
air mata. Kampung-kampung terkepung isak
gerimis berkelahi di halaman mengoyak derita. Ribuan
nyawa diceraiberaikan tsunami - gempa dan galodo. Aku hanya mampu mendirikan
kemah di hati membunuh gelisah bersimaharaja antar ke perkuburan waktu.

Aku
ziarahi negeri
air mata. kampung-kampung terkepung luka-rinai tempias ke wajah
semesta mengeram di jiwa. Aku hanya mampu mencatat dalam senyap jerit
di kenang jadi pelajaran menuju
Tuhan.

Aku
ziarahi negeri
air mata. Kecemasan dan ketakutan mengurung jiwa seperti rentak tangis bersahutan sesak
masih lekat di ingatan tentang Aceh di lipat air raya karena gempa. Yogyakarta luluh-lantak
pesisir selatan Jawa rubuh. Minangkabau diratakan gempa di ruang senja - aroma kematian menyekap
pikiran dalam timbunan tanah dan beton,
apalagi yang tersisa selain doa-doa ditasbihkan menembus
langit memetik bulan-Tuhan menegur kita dengan cinta-Nya.

Aku
ziarahi negeri
air mata. Ah! Apalagi yang tersisa jika air berumah di kampung
- di pasar - di sawah - di ladang, langit menangis
renyah dalau bulan mandi galodo - gerimis menari-nari angin jalang memekatkan jiwa
- rupa hilang dalam kelam waktu
kitapun hanya mampu berumah di pikiran
- bercerita tentang kisah getir Aceh di gulung tsunami,
Pasie Laweh berladang batu,
Minangkabau beratus nyawa dilipat beton terkubur tanah pengunungan.
Merapi menyulap Jawa sebagai prasasti
kehidupan oleh debu bakarkan diri - sucikan hati. Ah!
Barangkali ada yang mengetuk pintu mengurung ombak di dada menghamburkan luka.
Kenapa kita lupa
pada cuaca putih mengelus hati meluruh.
Kenapa kita tinggalkan awan putih mengantar rindu ke pintu surga.
Kenapa
kita lupa pada air bersemanyam di kalbu mengantar rindu pada-Mu ya Rabbi.
Ah! Di luar kabut mengental menyusup
nadi bergantung di pucuk daun - mengurung samudera pikiran.
Kemana tuangkan duka - tumpahkan gelisah
O, hati yang resah bersabarlah, pucuk angin pasti membelai dada
O. hati yang gundah bersabarlah, matahari pasti singgah di gubuk kita
O. hati yang gulita bersabarlah, sebentar lagi sabit pasti purnama menjemput segala senyum 
di kening
bulan.

Aku
ziarahi negeri
air mata. Terlambat mengeja nama-Mu
- saksikan pekik-tangis menyatu dalam gemuruh duka. Aku
hanya mampu mengantarkan mawar biar sempurna segala kisah.
Itulah kami ya Allah, selalu angkuh
dan pongah - sering lupa jika sedang dirundung bahagia
- Hilang ingat jika sedang berpesta - tak tahu diri
jika sedang berkuasa - alpa melaut di sajadah.
Aku sempatkan menjenguk rumah yang Kau rubah jadi galodo - laut
dan hujan debu serta lahar dingin. Kusaksikan Tuhan tersenyum getir
dalam senyap
sepi
keramaian
ah!

Indonesia, 2004-2011
Puisi: Ziarah Bencana
Puisi: Ziarah Bencana
Karya: Sulaiman Juned

Baca juga: Kumpulan Puisi 2 Bait 8 Baris
Loading...

Post A Comment:

0 comments: