Awas

“jangan tulis puisi!”
kau acungkan moncong basoka
ke wajah yang luka
tetapi puisi menjelma tenda
tempat pergi dan pulang merdeka

“jangan tulis puisi!”
kau cabut kuku jemarinya
lidah cedal dan tangan terkulai
tetapi puisi terus mengeraskan tangan
tidak mau berhenti untuk melawan

“jangan tulis puisi!”
tidak ada moncong basoka
tidak juga kau cabut kuku jemarinya
tetapi setiap puisi kau awasi
dengan senyum mata begitu pucatpasi

airmata di pipi
mengurai ngeri
teringat luka
tambah menganga.

Yogyakarta, 11 September 20
Puisi: Awas
Puisi: Awas
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi Cinta

Post A Comment:

0 comments: