Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Tersebab Sunyi (Karya Iswadi Pratama)

|
Tersebab Sunyi


Aku bisa saja menulis sajak yang bukan tentang sunyi, misalnya seperti ini:

Di Manhattan, di sisi West Side, melaju dengan sebuah trem menuju Harlem aku cium lagi bau kulit mengelupas di sekujur stalagnit yang kini menjadi Wall Street; Padang rumput tempat para Indian menyalakan api itu telah dirampas Peter Menurit. Lalu di antara apartemen-apartemen bata yang sunyi, dimana doa kaum Yahudi pernah terkunci, Sebuah dunia baru telah bangkit, dunia yang menolak semua kitab suci dan menawarkan inflasi ....

Atau yang seperti ini: Di Babilonia, kudengar lagi pekik Hammurabi. Di antara puingan bangunan, di Timur dan Selatan Sebuah peradaban yang dibangun di atas genangan darah dari pedang pemberontakan Elam. Tanah yang kini terbengkalai dan gersang, di sanalah kukenang lagi Samsuiluna, Venus yang terbit dan terbenam, orang-orang Hitti yang tertindas dan meradang. Dan kini, setelah ribuan tahun, seseorang menepuk bahuku seraya berbisik,

”aku bukan Semit, Elam, atau Mesir, Akulah Muasal Mereka, sebab aku Indo-Eropa“. Lalu ia teguk lagi sebotol Vodka seraya mencium pipi kiriku dan berlalu, ke balik kabut. Menuliskan namanya di kulit malam yang mengelupas di dinding kuil kecil. ”Akulah Semit yang mengembara ke Mesopotamia, menembus Kanaan, hilang di antara Laut Kaspia dan Laut Hitam. Tetapi akulah leluhur Para Arya di India." Tetapi Sejak Hammurabi menyapu Mesopotamia, Kau diseru dengan nama ”Hitti“. Lalu kau belajar mengeja dan menulis, menuturkan sejarahmu yang tragis. Serupa sebatang pohon kehilangan rumpun, seumpama onta tanpa gurun.

Tetapi aku hanya akan menulis padamu perihal lain, misalnya tentang pedas cabe di cobekku sendiri dan bukan tentang anggur yang sangat kau puji. Mari saling mencicipi, sebab aku tak bisa menanam anggur di pekarangan sempit ini, Meskipun kau bisa saja berkebun cabe di luas lahanmu yang subur dan masyhur.


Manhattan, Februari 2011

Puisi: Tersebab Sunyi
Puisi: Tersebab Sunyi
Karya: Iswadi Pratama

Bacaan Menarik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar