Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Puisi: Bidadari (Karya Arif Bagus Prasetyo)

|
Bidadari


Tuhan, aku ingin terbang, bisikmu. Dan seketika kamu bangkit lewat hujan yang semalam kucemaskan. Celah basah di matamu, hutan musim gugur. Tapi di bibirmu, di dadamu, orang-orang makin rajin menanam benih musim semi dan pelangi. Memimpikan taman-taman senja hari yang tiada ingin kaucemaskan lagi.

Dan terbawa hawa dingin di gelasmu, denting kata-kata runcing yang terlampau kucemaskan, kini kugoreskan juga setiap warna yang kaucemaskan di alis itu, di mana cuaca membangunmu jadi kota yang sepi ditinggalkan penghuni, dengan apartemen lain, gema percakapan lain, lampu gantung terayun suram di tiap tingkat, menara salib gereja tua, rel kereta yang menjulur ke arah gelap, dan jembatan masa silam yang kelewat kauharapkan, yang terlalu cepat melepas.

Sementara kebeninganku, serak hujan yang tiada padam-padamnya menjeritkanmu di balik korden, kelak akan tampak tolol, kukira. Akan bagai cat kukumu yang keburu terkelupas, rontok, dan hanya bisa menyesali jemarimu yang tak sampai.

1995
Puisi: Bidadari
Puisi: Bidadari
Karya: Arif Bagus Prasetyo

Bacaan Menarik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar