Puisi: Aku Pergi Saat Api di Matamu (Karya Isbedy Stiawan ZS)

Aku Pergi Saat Api di Matamu

1/ Aku pergi

Aku keluar rumah saat api di matamu semakin menyala. Tak ada waktu lagi
merapikan rambut dan memakai pengharum tubuh. Kecuali beberapa
pakaian yang bisa kuselematkan, sedangkan lainnya terbakar di dalam
matamu. Bola matamu adalah tungku, apinya membara: jilatan
panas membakar dadaku. Tubuh garing, waktu membara.

Kutinggalkan rumah ketika bara di matamu laksana tangan-tangan
menari - ah tidak, seperti lambaian agar aku pulang - tapi aku tak lagi ingat
bagaimana cara membuka pintu. Sudah kubuang kunci yang selama ini
kupakai untuk membuka dan mengunci. Menyangkarkan kau atau
melepasmu terbang. Kujadikan burung yang dimanja; setiap pagi kumandikan
sayapmu dan kubelai jelang tidur.

Kini hanya sisa kenangan. Api yang semakin membara di matamu, kobaran
amarah dari dadamu telah menghanguskan segala kasihsayangku. Aku
sekarang mau pergi jauh, setelah kulempar kunci yang dulu mengingatkanku
selalu akan pulang. Sudah kulupakan pula bagaimana berkencan secara
indah bersamamu. Mengulum setiap kalimatmu, lalu kurekam dalam lidahku
berapa kata yang melelapkanmu.

“Kau tak akan pernah pergi jauh, sayang. Seluruh liurku sudah tertanam
sebagai rumah. Jadi, ke mana pun arahmu melangkah di situlah wajahku
tersenyum. Seperti selalu ingin mengajakmu menumpaskan
hari-hari gerah. Kau tahu, sudah kulumuri tubuhmu dengan liurku, karena
itu kau tak akan sanggup jauh dariku,” katamu, tepatnya mengancam, penuh
kesombongan.

Dan, buktinya aku pergi juga. Kutinggalkan rumah setelah kulempar kunci
entah di mana agar aku tak lagi menemukannya yang membuatku rindu
pulang. Waktu kutinggalkan rumah, kau sedang menyalakan api
di kedua matamu. Sementara matahari yang menyala kau kobarkan terus
dalam dadamu. Sebilah besi kaupanggang di sana, seperti pandai besi,
kau sulap jadi parang. “Engkau bukan Empu Sendok! Hanyalah seorang
perajin dan penyulam.Tapi, tak pernah selesai,” teriakku. Setelah itu aku lari kencang. Tubuhku mengejang.

Tak ada artinya teriakanmu. Bertahun-tahun tubuhmu dalam genggamanku,
kau dalam pengaruhku. “Segala yang kaulakukan dari sihirku. Sekali kukatakan
‘jadi!’ kau akan jadi dalam kehendakku!” Sebab itu, urungkan niatmu tinggalkan
rumah kalau kau tak pernah jauh berjalan. Terlalu lebar halaman ini,
kembalinya ke taman juga. Padang-padang, lautan, dan bukit: lalu mau
ke mana setelah kau tutup pintu rumahmu?

“Yang penting aku pergi. Meski tak kutahu ke mana kulangkahkan kakiku, tak
tercatat nama-nama jalan dan persinggahan. Aku juga buta warna rambu,
namun sekali pergi tak hendak aku pulang. Sekali kukatakan
sudah kubuang kunci yang dulu mengingatkan pada rumah, kini setiap
hasrat membuka pintu telah kugagalkan dengan kuncimu,” jawabku
sambil menyeret sepatu satu-satunya milikku yang buruk, namun sudah
sepanjang usia menemaniku.

Sepatu itu - sepasang sepatu yang telah hilang warnanya - semacam
kekasihku sudah bertahun-tahun mencintaiku, dari pagi hingga tengah malam
baik dalam suka maupun duka. Ia telah berjanji di hadapanmu tak akan
menceraikan aku, tak berhasrat meninggalkan kedua telapak kakiku.
Ia berkata, aku yakin dari ketulusan hati, “Aku sangat mencintai kedua
telapak kakinya, sehingga biarpun tubuhku hancur atau subur tetap
setia aku melindunginya dari duri-kaca-kayu yang ingin melukainya. Aku
mencintainya, meski mata kakinya tak berfungsi.”

Sepatu itu kini turut kutinggalkan. Aku lupakan dia sejak kutitip dengan manis
di sebuah gudang. Walaupun sebagai penghormatan, ia kuletakkan di rak
paling atas dan amatlah rapi. Tetapi ia tetap tak berguna, tak lagi
kugunakan dalam kemarau ataupun hujan. Merasakan kebengisanku,
ia bertutur: “Jangan pernah percaya pada manusia bertutur manis
dan syahdu, sebab di balik itu tersimpan harimau yang sewaktu-waktu
menerkam dan mencacahmu!”

Sepatu-sepatu lainnya hanya memandangnya. Heran. Mungkin mereka
percaya, namun bisa jadi mencibirnya: “Kasihan kau, baru sekarang
kau ungkapkan keburukan-keburukan kekasihmu. Padahal dulu, saat
kau selalu bersamanya dan saling mengasihi, bunga paling beraroma
yang bertunas di bibirmu. Sekarang....”

Aku mesti pergi, meski dengan apa aku harus tinggalkan rumah. Melupakan
setiap kenangan dan masa silam yang pernah menyatukan kita di dalam
buku yang tertera namaku dan namamu. Entahlah, apa pula kusebut
buku itu. Mungkin tak bernama. Tetapi senantiasa ada di sakuku. Buku itu
akan kutunjukkan setiap orang yang bertanya maupun merazia. Meski kau
telah lama kutinggal, sejak kubuang kunci dan berjalan melupakan
pulang...


2/ Aku piatu

Setelah jauh dari rumah, dari kenangan tentang kunci, pintu yang terbuka lebar
dan kulihat kau tersedu saat kutinggalkan dengan mata penuh api. Aku pun
tersadar kini; aku piatu. Aku hanyalah sebatang kara. Orang yang keluar
dari kemaluan ibu tanpa kawan. Sejenak menangis, mungkin penanda
betapa aku sesali tercipta sebagai manusia. Toh, pada saatnya nasibku
lebih rendah marwahnya dari hewan. Aku tak akan pernah melebihi apa
yang sudah menjadi hakku atas ciptaanku. Seperti sepasang sepatu
yang kuumpakan kekasihku, aku akan dititipkan pula di kamar kosong
dan berdebu. Tak ada satu pun yang meletakkan kasihsayangnya
di tubuhku. Tak juga senyum atau bunga paling beraroma. Cuma selarik
kata: “Kau kini sudah piatu. Tak berharta dan bermarwah. Hanyalah duafa,
kau duda bagi diri dan cintamu.”

Kalimat itu kurangkai, lalu kukirim padamu sebagai surat. Bacalah! Dengan
menyebut namanya yang tercipta dari segumpal darah….

Kemudian kunikmati kepiatuanku. Merantau tak kenal pintu.

Aku piatu. Kakiku tak bersepatu. Telapak kaki luka karena duri-
kayu-kaca. Menganga. Darahnya tumpah ke laut merah. “Kembalikan
aku sebagai Musa yang terlindung dalam keranjang saat kau hanyutkan
ke sungai itu. Meski aku diasuh raja bengis yang murka, aku tetap terjaga
untuk setia kepadamu.”

Aku adalah piatu…


3/ Senja

Di hadapanku matahari kemerahan. Sebentar lagi aku akan ditinggalkan
sendiri duduk di batu hitam ini. Belum juga kudapati jawaban dari
pertanyaan-pertanyaanku sejak kanak-kanak. “Apakah semesta ini ada
karena ia berkeinginan ada? Adakah rupa warna tercipta sebab mata
membuatnya ada? Kalau semesta benar-benar ada, tak bolehkah
ia berpikir? Bukankah aku ada karena kau memberiku akal?”

Waktu berputar. Mempercepat bilangan tahun. Rambutku berubah warna. Kini
mencapai senja. Seperti warna matahari yang mulai lengser di barat,
aku melangkah berat. Tiada emas sekarat pun. Aku tak pernah berpikir,
meski aku diberi akal, menabung yang kupecahkan pada hari nanti.

Ketika matahari amatlah parak. Orang-orang terlalu panas oleh sengat
cahayanya. Tetapi, waktu itu, tak ada lagi perajin payung. Semua orang
jadi bodoh bagaimana menganyam kayu dan merekatkan kertas, lalu
kau jadikan pelindung saat hujan dan terik.

Di dalam benakku, berulang-ulang, bayangan sebuah jembatan. Amat
sangat kecil dan rentan patah. Tetapi banyak orang berani melintas
di atasnya, meniti tujuh helai rambut terbentang. Kusaksikan orang-orang
bagaikan sekelimunan kutu merayap di rambut anakku. Kutu-kutu itu
kutangkap dan kumatikan dengan kuku jempolku, setiap hari. Mungkin
sudah seribuan kutu, mungkin pula lebih, mati ditindas jempolku. Hanya
saja, yang meniti jembatan rentan dan di bawahnya kobaran api yang
memancar dari kedua matamu, dengan anggun dan melambai padaku.

“Terimalah apa yang telah kau perbuat. Berapa langkahmu menyimpang,
sekarang sama kau terima. Sedikit pun tak dikurangi atau ditambah.”

“Lalu, apa yang kau pernah perbuat sehingga dengan anggun kau meniti. Bahkan sesaat lagi kau akan sampai di seberang sana?” tanyaku. Aku
sangat cemas pada diriku. Api yang menyala itu mulai membelaiku,
panas. “Aku mau sepertimu.”

Kembalilah, ingat pada kunci yang kau buang itu. Sebab dengan kunci
Itu kau akan mengerti sesungguhnya pulang dan mengenal kembali
rumah, sangatlah menyenangkan.

Ia surgamu...


4/ Malam dan usia di depan pintu

Akhirnya, pulang adalah pilihan setelah kau pergi - betapa pun kepergianmu
jauh atau cuma sebatas tetangga - sebab setiap keinginan pulang
mestilah dimulai dengan pergi. Adakah orang pulang tanpa pernah ia pergi? Orang-orang mau merantau karena tahu nikmatnya mudik.

Aku pergi sebab kutahu indahnya pulang. Rasa nikmatnya saat jalan menuju rumah. Dalam kepergian Itu, kubawa kampung halaman; kukantongi
ingatan-ingatan tentang rumah. Halaman rumah yang dipenuhi rumput hijau, pohon-pohon rindang dengan buah lebat. Seperti ranum wajah kekasih.

Jadi, bagaimana mungkin kau akan lupakan rumah? Pergi untuk
tidak ingin pulang? Kau boleh tinggalkan rumah dan melupakan sepatu
yang teronggok di kamar kosong, serupa gudang itu, namun jangan
pernah melumat ingatan untuk pulang.

Dan, saat malam di usiaku yang keperakan ini, aku tiba di depan
pintu rumah. Menyerahkan semua peluh dan keluh. Membongkar
buah tangan yang hanya dipenuhi debu dan kecewa. “Pasar sudah
lama sepi. Pasar makin megah dan angkuh!” bisikku.

“Itu sebabnya, kenapa kau pulang? Karena kau tak lagi bisa berdagang?
Tawar-menawar nilai diri dan nasibmu?” tanyamu. Meski aku tak tahu
dengan kalimat apa menjawabmu, aku tak sanggup untuk tidak
mengangguk. “Bagus. Kejujuranmu, setidaknya, mengurangi besar
hukuman untukmu.”

Malam ini, usiaku berada di depan pintumu. Tak mampu lagi kuajak
berdusta. Ia enggan kubujuk merantau: memasuki kota-kota
asing, tempat-tempat tak bernama yang hitam, gedung-gedung yang
menyimpan kemalangan dan kecemasan. Ke tepi-tepi pantai yang
kerap membuat orang abai.

Ke tubuh-tubuh sintal dan ranum. Aroma badan yang dapat menyihirku
hingga menjelma peri, lalu melaknat orang-orang lain dengan racun
yang kuperas dari lidah ular. Ular yang dulu sekali telah menjebak
kedua orang tuaku: ayah dan ibuku.

Ular itu menyebarkan fitnah. Sampai keluargaku terbunuh
oleh adiknya sendiri. “Aku akan bunuh setiap akan lahir ular. Rumput liar
tempat paling aman sembunyi ular akan kupangkas hingga ke akar.
Beri aku kesempatan sekali saja sebagai pemangkas rumput, kalau
kau menghendaki tak lahir lagi ular. Kau tahu, racun ular lebih berbahaya
dari liurmu. Tetapi, bisa ular tak mampu mengalahkan lidahmu
tak bertulang. Kau sebarkan kata-kata dusta. Kau fitnahku!”

Sesungguhnya, hidup ini tak aman dari ihwal fitnah. Tak mungkin kita mampu sembunyi dari fitnah dan caci. “Karena itu, kau kembali setelah lama pergi? Menjadikan rumah tempat paling aman dan nyaman
dari segala marabahaya?” tanyamu

Tak berani kukatakan iya, meski sulit menggelengkan kepalaku.


5/ Di tepi pantai, suatu siang

Kita bergegas menyisir pantai. Pasir-pasir yang masih menyisakan buih ombak,
melekat di kakimu. Kau biarkan sebagai penanda bahwa kau pernah bersamaku
singgah di pantai ini. Di tepi laut. Memandang jauh, menyaksikan perahu-perahu
nelayan pencari ikan. Yang pergi dan menepi ke pantai.

Para nelayan itu tahu kapan datang badai dan angin tenang. Tetapi, selalu saja,
mereka setia melaut. Menebar jala, melempar mata kail, menjatuhkan bom. Lalu
menangguk ikan tangkapan “ Ke mana ikan-ikan itu akan dibawa?” tanyaku.
Para tengkulak sudah lama menanti.

Tanganmu melingkar di pinggangku. Susuri pantai berpasir ini. Seperti
masa kanak-kanak dulu, kubuatkan rumah untukmu. Rumah pasir. Berdiri kokoh
dan kau ingin segera menempatinya. “Sekiranya jodoh, aku akan bersamamu
menghuni rumah impian ini,” bisikmu kemudian mendaratkan bibirmu
di keningku. Aku membalas.

Hanya saja, rumah yang kubangun tak lama tegak. Serombongan ombak, sekelimun gelombang, meluluhkannya. Tersapu sampai ke daratan. Terhapus tanpa meninggalkan kenangan. Kau pun tersedu. Aku berduka.

“Bila gentar dihantam gelombang, jangan dirikan rumah di tepi pantai. Jika
kerap masuk angin dan tak tahan cuaca pantai, baiknya bangun rumah
di lurah saja,” nasihat seorang nelayan, suatu kesempatan.

Bergeming. Kewkeh. Tetap kubangun rumah di tepi pantai. Untukmu agar setia pada pulang. Pintunya menghadap pantai. Jendela yang terbuka bagi matahari
menampakkan wajahnya. Pada pagi hari, aku duduk di belakang rumah. Membiarkan wajahku disapu cahaya. Dan jika senja hari, kunikmati sunset
yang menawan itu. Matahari yang kemerahan pelan-pelan sembunyi
ke balik ufuk.

Aku abadikan. Kau memajangnya kemudian di dinding. Sampai pada akhirnya
gambar itu hanyut oleh gelombang besar. Bersama rumah dan barang-barangku
yang lain. Juga aku dan kau.

Kita tak perlu tahu jalan menuju rumah, sebab pasti akan pula pulang. Ya, Pulang.

Betapa indahnya, ternyata, arti pulang. Padahal, dulu sekali, aku sangat menginginkan selalu pergi. Mengumpulkan kosakata pergi agar aku tak
Ingat pulang, namun aku kian terlantar dalam makna merantau. Kulempar
kunci rumah ke semak untuk tidak ingin lagi mengingat pulang.

Namun kini aku benar-benar merindukan pulang. Kangen kesumat pada
rumah: tempat kelahiran dan kematian - sebuah surga yang diturunkan.
Di bawahnya, konon sungai susu yang mengalir. Bidadari tersenyum dan
bermain di taman-tamannya,

sehingga membuatku urung pergi. Kuretakkan setiap jalan yang
ingin mengajakku merantau...

Puisi: Aku Pergi Saat Api di Matamu
Puisi: Aku Pergi Saat Api di Matamu
Karya: Isbedy Stiawan ZS

Baca Juga: Contoh Artikel Traveling
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar