Puisi: Orang-orang Bergegas dan Lainnya Menunggu Karya: Arafat Nur
Orang-orang Bergegas dan Lainnya Menunggu

Orang-orang bergegas, sebagiannya
menunggu, dan aku ke kota untuk
membeli jam tangan baru.

Seperti kebelet hajat, di jalan, orang-
orang berkendaraan melaju kencang,
begitu tak sabar, saling mendahului,
memburu lesatan waktu yang menolak
untuk menunggu. Tapi mereka yang
lebih dulu tiba pun gagal menangkapnya.
Di genggaman tangan, mereka tidak
menemukan apa-apa.

Mereka yang nekat melesat tajam
memacu motornya gila-gilaan, langsung
mendarat di bulan - di bulan neraka.
Tanpa sempat mengucapkan selamat
tinggal pada kekasih cantiknya yang
menunggu di ujung jembatan surga.

Di tempat piknik, di tempat-tempat
hiburan, di kedai-kedai, dan di kafe-kafe,
waktu begitu banyak melimpah.
Terbuang serupa sampah.

Orang-orang duduk santai, mengobrol
seharian panjang-lebar tanpa pernah takut
kehabisan waktu. Waktu tak akan ada
habisnya, dan mereka akan hidup selama-
selamanya di dunia. Mereka tak percaya
ada kehidupan lain setelah mati.

Di kamar yang pengap aku tenggelam
sendirian, sibuk menulisi tentang waktu,
puisi, dan riwayat hidupku sendiri. Tanpa
terasa tiba-tiba usiaku telah tua.

Waktu begitu cepat bergerak di kamar kerja,
juga dalam diri. Di luar sana waktu belum
terlalu jauh beranjak, bahkan seperti tidak
bergerak. Semua masih berada di tempat
semula, di tempat-Nya.

Aku telah banyak kehabisan waktu,
terbuang sia-sia tanpa sempat memikirkan
diriku sendiri yang tak pernah bahagia,
tak pernah dimanja, dan tak sempat
menikmati kemewahan dunia, tidak ada
kesenangan, juga hiburan. Dan, aku tidak
pernah tahu tentang adanya keindahan
dunia selain dalam buku-buku yang
terabaikan di perpustakaan.

Kekasihku tidak tahan, tidak betah tinggal
lama bersamaku. Bahkan di awal bulan
pertama perkenalan dia sudah pergi.

Sekarang waktunya aku ke toko untuk
membeli jam tangan baru, karena yang
lama telah rusak. Aku membeli jam
banyak-banyak, berharap waktuku bisa
bertambah, menggantikan semua yang
telah hilang.

Puisi: Orang-orang Bergegas dan Lainnya Menunggu
Puisi: Orang-orang Bergegas dan Lainnya Menunggu
Karya: Arafat Nur

Baca Juga: Kumpulan Puisi Ibu

Post A Comment:

0 comments: