Puisi: Bahu Batu (Karya Zen Hae)

Bahu Batu

ia sampai ke sebuah danau – setelah berlari kecil sembilan putaran, dari kanan ke kiri. ahlan!

ia berlari kecil hingga seluruh jalan dan kedai, pelat reklame dan spanduk, juru rupa pemandangan, menyalin mimpi masa
kanaknya: dunia segi empat 12 warna. ia berlari kecil hingga
segala yang nyata oleh terang, bergetar, pelan-pelan menjauhinya, menabrak cakrawala. hingga segala yang silam menjerit-jerit
dalam cengkeraman sepia, minta dikinikan. maka ia berhenti, memejam dengan dua tangan terentang. si kanan menata kembali letak benua dan arah angin, muasal bahasa, silsilah keluarga, jarak antara ekaliptus dan kayu manis, bunyi sumbang di sela merdu rima. si kiri – yang lebih pucat dari paras hantu jepun – membangkitkan kembali kapal kayu dan guci arak, kata belayar, pembakar loji, humus harum, pemetik gitar di hari hijau: ”dapatkah ketua menghidu harum buah kalam musafir lata?” pelan-pelan ujung kedua tangannya memanjang seraya matanya yang berjubah tirai darah menuju cakrawala dan menerka apakah barisan
pepohonan masih merendah-meninggi dan gajah dan semut dan peribahasa nun di seberang danau (sic!) telah memasuki pagina
pagi. kini kedua tangannya adalah jembatan untuk tupai yang tak pandai melompat, jalan suci untuk kafilah semut yang percaya ada gunung madu di balik mimpi sepasang rama-rama. berziarahlah demi segala yang mati dan akan dibangkitkan pada tiupan ketiga. berziarahlah untuk ia yang tiada pernah dapat ketawa. ia
mengangguk dan terkikik, terbatuk dan mendelik. tapi di
tengkuknya seperti bertengger kurcaci yang meniupkan kembali seruan kaum padri: ”setiap yang bernyawa…setiap yang
tenggelam…setiap yang melawan…” maka ia kenangkan
seseorang yang mencibir di peti mati, yang paru-parunya terendam api dan duri, yang kematiannya tertunda 13 kali. ia rapal nama itu: ”si bahu batu, si bahu batu, memanggul koper hijau, bergamis gading dua depa kurang sehasta. si bahu batu, si bahu batu, tiada
peziarah selain ia. saya bersaksi”

andai sembilan putaran – jika ada: 999 buhul doa – mampu mengembalikan ia yang sirna oleh bujuk sepotong advertensi:
labaik! mereka yang mencarinya – di bawah khotbah amnesia –
menemu jalan pulang sepanjang labirin badai pasir. peta!

ia berlari kecil hingga pepokok mahoni dan wabah malaria,
rumpun keladi dan biang kerok, ancak dan setan gagu, spanduk
dan kuasa lokal, orang gila dan kitab fikih…berpulang ke haribaan dawat dan kertas ubi. maka ia pinjam lidah kaum-miskin-seribu- tahun untuk menjilat seluruh hijau yang terusir dan putus asa –
juga kerak jingga pada mahkota flamboyan. o, demi legiun
monokrom yang menjagal tahun-tahun cemerlang dalam hidupnya. demi orang-orang dungu yang kerasukan sorga di terik jumat, tahukah kau bagaimana rupa danau sedetik sebelum kiamat? ia menggeleng dan mendelik. tapi tangannya, yang digendong di belakang, meloloskan lagi sisa kuap. ia berikan nyawa pada lingkar-lingkar air hingga segalanya kembali ke masa kanaknya:
dua gunung satu matahari, lembing-lembing es patah di danau, nyiur hijau menembus bingkai, selarik awan tanpa rima. ”pada malam kesirnaan si bahu batu,” ia bersaksi lagi, ”aku menggambar danau seperti ini. ia melintas di tengahnya, ditemani seorang
peniup serunai.” bagus! maka ia tunjukkan tangan kirinya. ”inilah tangan pucatku, pemberi kegembiraan, telah menepuki bahunya. kami berziarah ke makam syekh yang berjalan di atas air, membeli congklak dan lumpang batu.” hari itu – hari ini juga – pagi masih teramat molek: perahu-perahu berdesakan di dermaga, orang-orang menunggu juru lelang, di loji berhimpun arwah pelaut dan
gelandangan. hari itu, hari ini juga, ia mengangkat tangan
sebagaimana seorang pengaba:

kau lemparkan sebentang laut, seloyang batu, laut batu, air batu
[es batu = batu es]
buta air, tuba laut, kabut seloyang, maut segantang gentarkan aku

maka ia berlari kecil hingga segala yang ia tinggalkan adalah yang
ia temukan. di kiri: pemandangan yang itu-itu juga! matanya yang terbikin dari kesedihan penjelajah hutan hitam, menangkap lagi bisik-bisik rumpun keladi, ”laut hanyalah laut jika keluasannya menelan seluruh pe(ng)lihatanmu. di seberangnya bermukim
seekor semut – hitam bisa, merah apalagi.” maka ia berlari lagi tiga putaran, berhenti di depan segala yang akan tumpah ke wajahnya begitu bangkai perahu kembali ke haribaan tuhan. nun di
hadapannya sebujur jasad mengapung-melintang. dua setengah dimensi. hijau tak tepermanai. ia menduga itulah mayat ayahnya. sebab masa kanaknya yang cemerlang bergetar di atasnya. juga tukang perahu, peniup serunai, sepukulan badai melambai-
lambaikan secarik kain berlumpur. ia menyangka segalanya akan kembali berjalan mundur hingga menemu lagi sisa-sisa tanya: ”apakah makna ziarah bagi ia-yang-tak-bermakam? bisakah koloni iblis itu kausingkirkan dari mataku? pohon apa yang tak berpucuk tak bergetah?” ia merasa geli oleh bibir penuh lemak yang
berkeciap di telinga kirinya. ia menyangka si pembisik itu adalah kekasihnya. maka ia berlindung dari segala godaan: tubuh pualam itu terbikin dari biji api – hanya bisa dicumbu saat malam pembakaran. lidah itu teramat basah – akan abu pada 1.000°C.
hujan api di negeri abang…
ia terjaga. jasad itu menjauh dan lenyap di cakrawala – membawa seluruh pagi dan mimpi buruknya hingga seluruh hari adalah siang. danau kosong-bersih. dan benih-benih puisi perlahan hijrah dari sana, ke arah musim semi nun di ujung larik puisi lirik. maka ia kembali mengingat ia yang bertarung di bawah hujan demi seekor kerbau dan sepetak sawah. ”orang yang mengusir kita akan bermukim di neraka,” kata si tua. maka ia hidu kembali percik darah di daun bambu, batang singkong patah, pagi yang tak hendak meminjamkan jubahnya pada seekor burung hantu. ”kau akan besar dan tumbuh di luar zamanku. pergilah,” kata si tua lagi. yang kosong di depannya kini penuh oleh segala kelampauan – minta dikinikan. maka ia kembali mengangkat tangan:

aku bangkitkan si udang batu, batu besar, besar kali lautnya
[kali = kali]
lautnya dari kali besar, besar batu menjepit udang, bangkitlah si bahu batu

tapi danau itu memantulkan gerumbul awan terbakar. langit jadi teramat rendah untuk gunung yang klaustrofobik. maka ia berlari kecil hingga seluruh pemandangan di belakangnya mengapi. lidah- lidah api itu mengejarnya, ingin merasakan kembali pensil gambar, sisa kuap, masa kanak hijau cemerlang. maka ia minta sekawanan burung untuk menyusun kamus cuitan yang lebih merdu. merajah kembali kata dingin dan sinonimnya ke lidah seluruh bangsa – sebagaimana ia menghapus seluruh kata api dan sinonimnya dalam risalahnya kelak. ia berhenti di depan yang mahakosong. ia merasa telah menyalin seluruh rupa danau itu ke dalam kata – sebelum memori orang dewasa mengacaukannya, sebelum ayat-ayat
melarangnya merupakan belibis dan belalang kayu. tapi kata-kata yang ia pungut dari lidah ibunya terhapus jua oleh sang mahalapar. segalanya akan nirkata – segala yang kaupuja hanya nirupa. maka ia minta sang juru cerita berkisah kembali, tapi ia yang letih akan menyudahi perawian sebentar lagi. ”lantas apa lagi yang bisa
kurawikan – kaurupakan – kepada mereka yang menungguku?”

maka ia bayangkan kembali si bahu batu. ia berlari kecil sembilan putaran. dari kanan ke kiri…

2017
Puisi: Bahu Batu
Puisi: Bahu Batu
Karya: Zen Hae

Baca Juga: Puisi tentang Diktator
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar