Puisi: Golok Bapak Karya: Inggit Putria Marga
Golok Bapak

meski aku masih sakit, bagai nelayan memanen ikan
sebahagia itu dirimu kuharapkan
kepalaku jadi kebun penuh rumput
bukan kolam penuh gurame yang kau beri pakan tiap sore
aku gagal menemukan herbisida
yang dapat memperlambat pertumbuhannya
karena ahli gulma telah beralih jadi ahli agama
rumput juga ciptaan tuhan, kata mereka
saat wawancara di salah satu tv swasta
pada apa lagi aku berharap
bila obat yang dapat mencegah akar rumput merayap
kini langka bahkan lenyap
seperti api terinjak hujan berderap
meski belum tapi aku hampir gila
tentu bukan karena memikirkan masa depan dunia
tapi triliunan akar rumput yang menjalar dalam kepalaku
kini telah merayap dalam semua urat di tubuhku
mataku tak dapat melihat wajah sendiri di cermin
kulitku berhenti merasakan dingin angin
apalagi hatiku
sama bekunya dengan jalan yang membuatmu
sering jatuh sebab licin
lalu apa yang pantas kurasa selain nyaris gila?
aku tak dapat mencegah rumput keluar dari telinga
padahal kelak aku masih ingin dengar kau cerita
tentang juru selamat
yang akan tiba di salah satu sudut dunia
menyelamatkan alam semesta, mengajak kita masuk surga
dan macam-macam lagi cerita yang bagiku kini tinggal
angan muluk semata
bapak, jangan lupa
balas suratku saat tiga ayam jantanmu serentak berkokok
kirimkan bersama sebatang golok, barangkali
ia obat tercocok.

2005-2009
Puisi: Golok Bapak
Puisi: Golok Bapak
Karya: Inggit Putria Marga

Baca Juga: Puisi 2 Bait
Loading...

Post A Comment:

0 comments: