Puisi: Nyanyian Sufi Karya: M. Nurgani Asyik
Nyanyian Sufi

Seorang kasmaran melihat dengan batin penuh pesona
menyibak rongga hati dan memungut karang,
lalu mendesah: “Kirimkan anggur bila kau datang.” Tapi
pelangi sore
pecah berurai: teratai bahkan kayu waktu menunggu.
Apakah dia sendiri, padahal matanya terkatup? Ke mana
jiwanya yang selalu bergemuruh, bergaung sampai ke langit
penghabisan? Bila sekelopak kalbu mekar hingga kiamat,
seorang kasmaran tetap mendengar kicauan burung
(“Kirimkan cinta ke atas ranjang
karena dalam diam aku masih bicara
pada saat khusyu’ begini; barulah kita tahu
pertemuan adalah awal nafsu membuka duka.
Meski sebuah tangis mengoyak cakrawala,
siapakah yang mendengar
jika kau lupa tanahmu. Sebab itu tunduklah dulu;
mengerti kerang dan permata.”)
Allah datang memetik kecapi
bernyanyi dengan dawai dari urai pelangi
Seorang kasmaran datang sepenuh birahi, lalu mendesah:
“Datanglah dalam dadaku, dan tuanglah madu murni.”
(Andai malam makin tuli
jengkerik pun telah bisu
apakah dia masih sendiri ketika membuka mata?)

Seorang kasmaran melihat dengan penuh pesona
menyibak rongga hati dan memungut karang,
membiarkan dia mengalir dengan darah dan berhenti
pada suatu tempat siapa saja tidak tahu di mana.

Yogyakarta, Januari 1989
Puisi: Nyanyian Sufi
Puisi: Nyanyian Sufi
Karya: M. Nurgani Asyik

Baca Juga: Puisi tentang Air
Loading...

Post A Comment:

0 comments: