Puisi: Orang yang Menyeret Babi Karya: Inggit Putria Marga
Orang yang Menyeret Babi

tak ada yang tahu nama, agama, bintang, shio, elemen, apalagi tempat dan tanggal lahir orang itu. orang yang hampir lima minggu, di kampung kami, hilir- mudik menyeret babi. babinya bukan babi seperti milik penduduk kampung (yang gempal bagai roti, yang berekor pendek setipis lidi, yang gemar memangsa tahi sendiri). babinya adalah babi suci (yang kurus bagai kaki sapi, yang berekor panjang setebal lengan bayi, yang pantatnya tak bisa mengeluarkan tahi).

tak ada yang berani mengganggu orang yang menyeret babi. siang-malam-pagi, sang penyeret berputar-putar seperti orang yang mencari. tak ada yang bertanya apa sesungguhnya yang dicari. semua orang disembunyikan dan bersembunyi dalam diri, dalam tak peduli, dalam rumah yang bagai kandang babi.

kala pagi, penyeret babi selalu duduk di pinggir jalan, di atas batu, di tepi ladang bambu. ia bagai babi yang menyeret babi, sebab hidungnya tak lebih mancung dari babi-babi peliharaan penduduk kampung kami. di atas batu, orang itu selalu tertawa keras-keras. babi yang ia seret akan ia tendang keras-keras. setelah melakukan itu, penyeret babi yang duduk di atas batu akan tertidur pulas. tak jauh dari tubuhnya, babi tergeletak lemas.

orang itu akan bangun tidur dan kembali melangkah bergegas, saat batu tempat ia tidur mulai panas. babi diseretnya lagi, kadang dengan tangan kanan sesekali dengan tangan kiri. melewati rumah demi rumah, sering terdengar ia menyerapah. melintasi kadang demi kandang, kerap terlihat matanya memerah. tubuhnya ungu tersinari matahari, wajahnya ribuan kartu yang menyimpan teka-teki. di lembar-lembar angin malam, sambil terus-menerus keliling berjalan kaki menyeret babi, orang itu bagai membaca puisi: oh, pada siapa kuwariskan babi suci ini, bila setiap kandang telah dipenuhi babi pemakan tahi. separuh kata-katanya mengapung di atap-atap rumah penduduk kampung kami, sebagian lagi menetes ke ranjang-ranjang penghuni rumah yang lelap bermimpi.

tak ada yang peduli ketika orang yang hampir lima minggu, di kampung kami, hilir-mudik menyeret babi pergi. tak ada yang tahu dan bertanya apa maksud penyeret babi itu meninggalkan babinya di depan pintu rumah kepala kampung: pria tua yang telah hampir lima minggu menjadi incaran pisau saya: istri kelimanya.

2008
Puisi: Orang yang Menyeret Babi
Puisi: Orang yang Menyeret Babi
Karya: Inggit Putria Marga

Baca Juga: Puisi tentang Cinta
Loading...

Post A Comment:

0 comments: