Sebelum Senja

Harus sudah menemu persinggahan dalam pandang
bumi lain bagi pijakan kemudian
untuk nasib yang kini terjangkit koreng
karena meningkahi gelegar kenyataan telanjang
beruapkan peradaban modern yang mengepul hangat

Di jagad itu, sirna alam pekuburan surealis
tiada lagi malam menggelepar
tiada lagi dada sendat disuruk cemas
tiada lagi degup jantung panas
tiada lagi berkejaran dengan diri sendiri

Maka jejak pun segera ditatah
dengan berbekal sisa nyali yang ada
tanpa gentar menantang langit terang membentang
sampai kecambah dalam hati ini mengelopak
dan kuntum mesra kemanusiaan menyembul
setelah itu
biar saja langit tak lagi bening

Yogyakarta, 1997
Puisi: Sebelum Senja
Puisi: Sebelum Senja
Karya: Sri Hartati

Sri Hartati lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 3 Desember 1954 dan wafat 7 Maret 2001. Alumnus Arsitektur Lenskap Universitas Trisakti Jakarta. Kegiatan di bidang sastra dimulai dengan mengarang
cerpen dan puisi pada tahun 1981. Karya-karyanya dimuat dalam sejumlah media cetak, antara lain Harian MerdekaPos Kota MingguBisnis Indonesia Minggu. Karya-karyanya telah dibukukan dalam Trotoar (1997)Monolog Tengah Malam (1997)Gerbong (1998)Orang-orang Sakit (1999), dan Equator (2011).

Sri Hartati pernah menjadi wartawan tabloid Fokus Makassar. Selain itu juga pernah mengasuh bulletin intern seni budaya Koridor yang diterbitkan oleh Yayasan Cempaka Kencana.

Selain menggeluti sastra juga berkreativitas di dunia seni rupa. Ia banyak menghasilkan lukisan sebagai media ekspresi bagi puisi-puisinya, dengan kata lain puisi dan lukisannya merupakan refleksi timbal balik. Pada tanggal 25-31 Oktober 1997 pernah menggelar pameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta dengan tema Puisi dalam Kanvas.

Baca Juga: Puisi untuk Orang yang Gak Peka
Loading...

Post A Comment:

0 comments: