Puisi: Sesaat Sebelum Pergi Karya: Inggit Putria Marga
Sesaat Sebelum Pergi

usai mengucapkan beberapa kalimat padaku
ia ajak aku ke batang jati yang tepekur tak jauh dari tempat kami berdiri
di dahan terendah dan terkokoh ia ikatkan tali, melingkarkan ke leher
seperti memakai sehelai kalung emas yang tak pernah mampu ia beli

aku tak mengerti apa yang terjadi, yang kutahu saat itu
merah fajar yang mengenang di langit telah abu-abu
merah fajar yang kerap menitik di sudut bibir ibuku yang batu
merah fajar yang mengalir di tubuhku seketika mendebu

anak, tubuh fajar yang terbelit tali malam telah terlepas
di depan rumah yang bukan rumah kita, tubuh merah itu tergelepar; membesar
lalu bangkit. ada seperti sepasang sayap menyeruak dari bagian tubuhnya
yang entah apa namanya. ia pun terbang, begitu tinggi, seperti harapanku
pada kehidupan saat tangis pertamamu kudengar di suatu pagi

di gerbang cakrawala ia berhenti, semacam berharap aku tau kamu
menyusulnya ke kerajaan tuhan, yang mungkin tak sesempurna dalam mimpi
lama ia mengambang di sana, tubuh merahnya makin nyala
bagai warna darah pertama yang keluar dari kakimu, saat tajam batu-batu
adalah kenyataan pertama yang mesti kau temui, di langkah pertamamu
di atas bumi

bias merah tubuh sang fajar membuat laut awan cemar, bintang pudar
bulan sabit samar. seluruh tali malam terbakar, tapi ruang pagi
rapat tertutup layar. di atas ubun-ubun kita segalanya merah, segala darah
mengapa kau memelukku? jangan takut pada darah, jangan pernah takut
sebab bila aku hilang, kau masih dapat terus hidup dan memiliki darah di tubuhmu.
tapi jangan darahmu hilang, tak ada hidup dan tak ada aku untukmu

berdirilah di sampingku, namun jangan genggam tangaku

lihat tubuh fajar yang perlahan lumer dan menggenang di langit, darah hari
yang sesaat lagi kering oleh satu makhluk yang disebut matahari
bila fajar yang menggenangi langit itu telah pergi, lihat fajar yang lain
yang kerap menitik di sudut bibirku, darah dari mulut istri yang setiap malam
terhantam tangan satu makhluk yang disebut suami
lalu andai fajar yang menitik di sudut bibirku pun pergi
ingat fajar lain pula dalam tubuhmu

miliaran keping darah yang tak henti mengalir
tempat cintaku padamu tiap hari terlahir

jauh di atas kepalaku, bagai kelopak teratai hampir mekar
matahari sedikit berpijar. di sekeliling kakiku, embun di rumput-rumput teki
bersinar.

2014
Puisi: Sesaat Sebelum Pergi
Puisi: Sesaat Sebelum Pergi
Karya: Inggit Putria Marga

Baca Juga: Kumpulan Puisi Modern
Loading...

Post A Comment:

0 comments: