Puisi: Lima Riwayat Cinta (Karya Tjahjono Widarmanto)

Lima Riwayat Cinta

(Riwayat pertama)

mabuk tresna seperti hujan pertama yang haus menghisap debu
kematian-kematian terabaikan oleh ciuman-ciuman panjang

didera tresna kalender gemetar menghitung hari
di kejauhan awan mengenangnya sebagai sebuah riwayat tanpa akhir

mengapa segala tresna tiba-tiba datang
saat kitab warisan guru tak lagi bisa dibaca


(Riwayat kedua)

dalam tresna segalanya akan menuju hening,seakan tiada ada
dari kejauhan lamat-lamat segala suara hanya mewartakan senyap
segalanya larut dalam cumbu yang terbang bersama jiwa

kecup, kecuplah semua yang hening!

bercakaplah dalam bisu yang sunyi
kata-kata cuma senyum, cukuplah sudah

tresna membimbingmu dalam hening


(Riwayat ketiga)

untukmu tresna aku hening
impian dan yang nyata tak beda
milikku milikmu larut dalam sungai tak bertepi
segala bayang dihisap pusar sunyi
lampu-lampu dan segala cahaya jadi kunang-kunang
hinggap di sekujur tubuh dan juntai rambut
jiwaku jiwamu menari seperti para majnun

segala waktu mengerut
terbakar: tresna.


(Riwayat keempat)

kekasih, lorong ini panjang tak bertepi
aku pun tak sabar berlabuh di ciumanmu

jarak adalah teka-teki seperti datangnya hujan tak terduga

hanya kau, hanya kau!
yang menjelma akar menuju mata air
membuat bunga-bunga lotus tumbuh bermekaran


(Riwayat kelima)

tresnaku, tresnaku, mengapa kau tuangkan api lembut
di ranting-ranting hidupku yang dingin?

tresnaku, tresnaku, hari-hari seluruhnya menjadi sama
saling mengejar di angka-angka kalender

aku memburumu!

lintasan-lintasan gelap dan tikungan-tikungan dingin kulintasi
hingga sampai di dermaga-dermaga tanpa syahbandar
dermaga-dermaga tanpa kapal.dermaga-dermaga tanpa bendera

hasratku berjibaku dengan waktu yang melambat
: kau begitu berjarak.

2017/2018

Puisi Lima Riwayat Cinta
Puisi: Lima Riwayat Cinta
Karya: Tjahjono Widarmanto

Baca Juga: Puisi karya Budi Arianto
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar