Puisi: Perjalanan ke Kota Tua (Karya Tjahjono Widarmanto)

Perjalanan ke Kota Tua
: Beo

tak ada yang sudi mengabadikan perjalanan ini
selain gugusan lintang, seleret bulan, hutan bakau yang runduk
bersanding lancip pohon kelapa menjulur langit
sesekali bayang-bayang salib di tepian jalan
aspal jalan melingkar-lingkar bisu dalam gigil yang sepi
orang-orang keluar rumah berjemur bulan ngobrol di tepian
bicara tentang laut, pantai dan ikan tuna 

nelayan-nelayan baru pulang melaut
mengusung ikan dalam pika juga kisah gelombang
di sini bahasa laut begitu bahagia dan selalu tertawa
meski bau garam terasa juga keras dan asin
seperti asinnya keringat air mata nelayan
berdendang tentang taufan dan gelombang
perahu-perahu yang karam pecah menghantam karang 

di jalanan sepi ini antara pohonan bakau dan bau pantai
begitu tabah nelayan menghitung cermat purnama
menakar berapa deras gelombang akan membadai
seberapa tebal halimun mematahkan kompas juru mudi
bergumul seperti sepasang kekasih merindu
tak sejengkal berpisah meski palung laut begitu dalam
dingin dan kejam, seperti tangan-tangan maut menjulur 

di sepanjang jalan bayang-bayang bakau rimbuk
selalu kudengar geremang mantram-mantram cinta
akan laut yang tak pernah tua untuk dipuja dan dicinta

Ngawi, Beo, 2017/2018

Puisi Perjalanan ke Kota Tua
Puisi: Perjalanan ke Kota Tua
Karya: Tjahjono Widarmanto

Baca Juga: Puisi Anak SMA
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar