Puisi: Yugek (Karya Oka Rusmini)

Yugek

Aku pernah dinikahkan dengan laut. 

Ketika, tubuh kanak-kanakku mengelupas. Sebuah upacara besar digelar. Sesaji, bunga, tujuh mata air diruapkan di tubuh kurusku. Mataku dirajah. Ubun-ubunku ditancapkan mantra. Kepalaku ditaburi beragam bunga. Kulitku dibakar cairan kuning. Aku menjelma bidadari. Tubuhku dililitkan kain-kain kuno.

Aku berenang di rimba semesta. Tak pernah kupercaya laki-laki yang tumbuh dalam kepala teman-teman perempuanku. Aku sering menatap mereka sambil mengunyah gulali. Atau menelan kacang sukro. Menatap perempuan-perempuan kecil bergaya bak badut-badut aneh di depanku. Seorang perempuan telah meninggalkan seorang kanak-kanak di altar ditemani batang pohon. Udara dingin. Dan senyap yang terus-menerus menyuapkan api dalam tubuh kecilku. Membakar kaki-kakiku. 

Aku berenang di rimba semesta. Tak pernah kupercaya laki-laki yang tumbuh dalam kepala teman-teman perempuanku. Aku sering menatap mereka sambil mengunyah gulali. Atau menelan kacang sukro. Menatap perempuan-perempuan kecil bergaya bak badut-badut aneh di depanku. Seorang perempuan telah meninggalkan seorang kanak-kanak di altar ditemani batang pohon. Udara dingin. Dan senyap yang terus-menerus menyuapkan api dalam tubuh kecilku. Membakar kaki-kakiku. 

Perempuan-perempuan bertubuh batu memahat tulangku, meniupkan darah ke jantungku. Siapa yang mengirimku ke ladang tandus ini? 

Kukenal para penyapu Pura. Juga para pemetik bunga kamboja. Mereka mengabarkan: Ibuku telah hilang. Bapakku sibuk mendekap perempuan bercadar. Rambutnya ular. Hatinya panah beracun. Kulitnya pandan berduri. Dari manakah mahluk itu berasal. 

Aku pernah dinikahkan dengan laut. 

Seorang lelaki berdiri di depanku. Dengan sekerat taman bunga. Kata-kata manis. Kedua lengannya selalu siap menyentuh kulit kanak-kanakku. Apakah aku telah jatuh cinta padanya? 

Matanya biru. Dengan laut ombak, dan aliran sungai yang terus mengalir. Kadang aku mengambil lokan dari telapak tangannya. 

Kubuat cincin, kalung, dan anting. Aku dimandikan oleh buih laut. Kulitku digosok biji pasir. Lelaki itu siapakah dia? 

Aku pernah dinikahkan dengan laut. 

Orang-orang tak pernah bisa mengupas pikiranku. Mereka juga takut menatap mataku yang bulat, tajam. Bertabur nanah dan racun. Mata milikku mampu membunuh siapa pun yang menyentuh kulitku. 

Aku pernah dinikahkan dengan laut. 

Pagi-pagi orang-orang mengantarku. Mereka tidak lagi memiliki mata. Tubuhku dibalut bunga, juga air mata. Mereka dudukkan aku di pinggir pantai. Angin laut, menjatuhkan satu kuntum bunga di atas kepalaku. Tak ada matahari. Cuaca gelap. Para perempuan membacakan mantra. Para pemangku menghidupkan dupa, bunga, dan sesaji. Orang-orang terus memejamkan mata. Sambil mengulang mantra yang sama. Aku duduk diam. Sambil menunggu orang-orang selesai meleburku dengan laut. 

Aku pernah dinikahkan dengan laut. 

Kuharap seorang lelaki muncul. Dan aku akan jatuh cinta padanya. Lalu berlindung di dadanya yang bidang. Mengusap rambutnya yang tajam. Menyentuh kulitnya yang harum. Mencium bibirnya yang lentur. Mengusap matanya dengan bibirku. Menghirup ubun-ubunnya. Lalu memeluknya erat sambil bercerita tentang rahasia perjalanan darah dalam tubuhku. 

Aku pernah dinikahkan dengan laut. 

Kubayangkan seorang laki-laki muncul dari buih laut. Sambil membacakan sajak-sajak erotik yang menyumbat lubang-lubang tubuhku. 

Aku pernah dinikahkan dengan laut. 

Entah apa yang dicari orang-orang padaku. Subuh merayap. Kau tidak juga datang dan menjemputku. Sementara aku kuyup diguyur mata air dan bunga-bunga yang mulai membusuk. Mungkin aku akan menjelma bangkai. 

Aku pernah dinikahkan dengan laut. Kau percaya padaku?

2008

Puisi Yugek
Puisi: Yugek
Karya: Oka Rusmini

Baca Juga: Puisi Anak SD tentang Hujan
Blogger
Disqus
Komentar

Tidak ada komentar