Senja dan Gerimis

ada yang ingin menulis puisi. tapi bukan tentang gerimis dan senja. karena gerimis mengingatkannya pada airmata. dan senja sebagai bayang kematian. dan ia tak ingin menjadi sentimentil dan redup memandang hidup. mengapa para penyair menyukai kesedihan? katanya suatu ketika. entah bertanya pada dirinya sendiri. entah memeta pada perjalanan panjang riwayat kata-kata. hidup demikian indah. demikian meriah. mengapa penyair menulis tentang kegelapan. dunia yang asing dan papa. tak henti ia bertanya. dan tak sebaris kata dituliskannya. karena ia tak mau gerimis dan senja tiba-tiba muncul dalam sajaknya. muncul dari mimpinya. muncul dari alam bawah sadarnya. gerimis yang mengingatkannya pada airmata. guguran daun. dan senja yang mendebarkan dadanya saat malam merenggut cahaya siang. tapi ia tak ingin dianggap cengeng. satu kata mulai ditulis: hidup. tapi dihapusnya kembali. ditulisnya lagi: harap. tapi dihapusnya lagi: semangat. dihapusnya lagi. ah, ia pun menyerah. lalu ditulisnya: gerimis airmata senja kematian……

Mei, 2003
Puisi Senja dan Gerimis
Puisi: Senja dan Gerimis
Karya: Nanang Suryadi

Baca Juga: Puisi Ayah

Post A Comment:

0 comments: